Sabtu, 22 Januari 2011 03:01 WIB Ekonomi Share :

Larangan bus umum masuk bandara hambat pariwisata Solo

Solo (Espos)–Larangan bus umum masuk bandara yang selama ini diterapkan di Bandara Adi Sumarmo dinilai menghambat pengembangan pariwisata Kota Solo.

Lantaran itu, Badan Promosi Pariwisata Indonesia Solo (BPPIS) merencanakan pertemuan dengan dua pemegang otoritas bandara, yakni PT Angkasa Pura dan Lanud Adi Sumarmo. Pertemuan disepakati akan digelar Rabu (26/1) depan.

Ketua BPPIS, Bambang Mintosih, atau akrab disapa Benk, kepada Espos, Jumat (21/1), mengungkapkan larangan bus umum khususnya bus pariwisata untuk masuk ke bandaran mempersempit peluang masuknya wisatawan ke Solo. Kondisi tersebut, menurutnya, telah lama dikeluhkan kalangan pelaku wisata.

“Salah satu langkah strategis yang kami tempuh adalah menjalin komunikasi dengan dua otoritas bandara, yaitu PT Angkasa Pura dan Lanud. Rencana Rabu depan. Kami berharap, mereka bisa mengakomodasi kepentingan pengembangan pariwisata Solo yang diusung BPPIS,” papar Benk.

Dia menjelaskan isu mengenai kendala wisata Solo yang berbenturan dengan aturan bandara ini sebenarnya telah lama digaungkan. Namun selama ini, kalangan pelaku wisata hanya berbicara dari sisi kepentingan mereka masing-masing. Berbagai langkah juga telah diupayakan untuk menembus pihak bandara. Tetapi, segala upaya akhirnya mentok. Benk menyadari tidak mudah mengubah aturan yang telah berjalan bertahun-tahun itu. Melalui BPPIS ini, pihaknya berharap ada peluang untuk melonggarkan aturan tersebut. Sehingga tujuan untuk demi pengembangan pariwisata Kota Solo bisa jalan terus.

“Katakanlah misalnya, ada pengecualian untuk bus pariwisata. Tinggal kita atur bagaimana jalurnya. Kami ingin Solo ini menjadi seperti Jogjakarta yang telah menyediakan sarana angkutan khusus wisawatan langsung ke lokasi tujuan wisata. Saya percaya Solo bisa, asal didukung semua pihak,” urai dia.

Hal senada diungkapkan Walikota Solo, Joko Widodo (Jokowi) saat ditemui Kamis malam. Jokowi menyebut larangan masuknya bus luar ke dalam bandara memang telah menjadi permasalahan klasik yang dialami para pelaku wisata di Solo. Bagaimanapun, larangan itu, kata dia, membuat wisatawan pikir-pikir untuk masuk ke Solo. Padahal jika armada bus tersedia, besar kemungkinan wisatawan tak akan melewatkan waktu untuk mengunjungi pusat wisata Kota Solo, seperti menyambangi Kampung Batik Laweyan, Pasar Klewer, atau objek wisata lain seputar Soloraya.

tsa

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…