Jumat, 21 Januari 2011 02:49 WIB Klaten Share :

Rumput lereng Merapi mulai tumbuh

Klaten (Espos)–Pascaerupsi Merapi, rerumputan di kawasan Balerante, Kemalang yang dahulu hangus terbakar kini mulai tumbuh menghijau.

Namun, hal itu belum membuat para peternak tersenyum senang. Pasalnya, rerumputan tersebut telah dikapling-kapling lebih dahulu oleh pemilik tanah. “Kalau mau merumput, ya kami tetap beli kepada pemilik lahan,” kata Darso, warga RT 06/ RW III Balerante, Kemalang, Klaten kepada Espos, Kamis (20/1).

Darso menjelaskan, untuk memberi makan empat ekor ternaknya, setiap hari ia harus merogoh uang dari kantongnya tak kurang Rp 50.000 untuk beli rumput. Meski berat, namun hal itu tetap dilakukannya lantaran satu-satunya tabungan yang dimiliki hanyalah ternak. “Ternak itu hasil pemberian pemerintah setelah empat ternak kami mati terkena awan panas,” terangnya.

Setiap malam, Darso bersama anak-anaknya menjaga ternak-teranknya di puing-puing bangunan rumahnya yang telah hancur. Sementara, istri dan cucu-cucunya yang masih kecil dititipkan di pengungsian bumi perkemahan Kepurun, Manisrenggo. “Ya, sesekali ke pengungsian. Di sini, kan mengurus ternak sambil menjaga. Kalau tak dijaga, kan bahaya,” paparnya.

Diakuinya, saat ini harga ternak sapi memang masih murah. Alasan itulah yang membuatnya tetap memeliharanya meski biaya membeli pakan ternaknya cukup mahal. “Kalau harga belum normal, kami tak akan menjual. Lebih baik diternak dulu sampai harga kembali normal dan syukur bisa beranak,” tambahnya.

Sementara itu, kondisi cuaca di lereng Merapi akhir-akhir ini mulai susah ditebak. Hujan yang kerap turun kadang terjadi di pagi hari dan siang hari. “Repot juga kalau hujan turun siang atau pagi hari. Sebab, angin kencang membuat tak ada aktivitas seharian,” terangnya.

Sementara itu, pantauan Espos banyak warga yang menempati puing-puing bangunan yang dipasang terpal. Mereka beralasan, siang hari untuk mencari rumput dan menjaga ternak. Sedangkan, kalau malam hari sebagian kembali ke pengungsian dan sebagian menjaga ternaknya. “Itu juga yang membantu adalah relawan. Tapi ya hanya dipasang terpal, kalau ada angin kencang mawut semua,” pungkas Darso.

Terpisah, Kadus I  Balerante, Jainu mengatakan, setiap harinya warga memang selalu meninggalkan pengungsian untuk merumput dan menjaga ternak-ternak mereka. “Makanya, siang hari jumlah penduduk di pengungsian sedikit. Kalau malam, baru banyak,” terangnya.

asa

LOWONGAN PEKERJAAN
PT.Japantech Indojaya, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…