Jumat, 21 Januari 2011 12:23 WIB Ekonomi Share :

RI belum lepas dari ketergantungan impor bawang merah

Jakarta–Hingga kini Indonesia belum lepas dari ketergantungan impor bawang merah. Faktor cuaca ekstrem yang berdampak pada anjloknya produksi bawang lokal, membuat bawang impor tak tergeserkan di pasar dalam negeri.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengakui harga bawang merah impor relatif lebih murah meriah dibandingkan dengan harga bawang merah lokal. “Kalau bawang, justru bawang merah lokal lebih mahal dari pada bawang luar, dan ini juga kelihatannya bawang merah naik sedikit. Menurut pedagang, terganggu produksinya oleh hujan sehingga untuk isi kekurangan itu mereka impor,” kata Mari dalam acara kunjungan Pasar Kramat Jati, Jakarta, Jumat (21/1)

Namun Mari mengatakan meski lebih murah dari bawang merah lokal, dari segi kualitas bawang impor lebih di bawah dari bawang lokal terutama dari sisi aroma. Sehingga ia memastikan, konsumen justru lebih tertarik dengan bawang lokal meski harganya sedikit lebih mahal.

“Tadi ibu-ibu pedagang nggak jual bawang impor walau lebih murah nggak laku karena nggak wangi. Jadi saya kira kita nggak harus khawatir, tapi dalam kondisi sekarang karena hujan kurang, diisi juga oleh bawang merah impor yang lebih murah tapi ternyata akualitas dan rasa ternyata kurang,” jelasnya.

Sementara itu Sardi Mutadi ,40, seorang pedagang bawang merah di Kramat Jati mengatakan  saat ini harga bawang merah lokal dari Brebes harganya berkisar Rp 20-21.000/kg padahal normalnya harganya Rp 10-12.000/kg. Sedangkan harga bawang merah impor asal Thailand hanya Rp 19.000/kg atau sudah turun jauh dari kondisi minggu lalu yang harganya masih mencapai Rp 20-21.000/kg

“Sejak naik pembeli jadi berkurang kalau beli. Yang biasnaya beli 30 kg sekarang cuma beli 20 kg. Bawang merah impor lebih murah harganya karena stoknya banyak di Bandar bawang merah di kramat jati,” jelasnya.

Sardi menambahkan bahwa bawang merah lokal mahal karena di Brebes kurang stoknya karena belum musim panen sehingga harganya lebih mahal. ia juga mengatakan bahwa  bawang merah impor asal Thailand tidak terlalu pedas.

“Lebih enakan yang lokal. Biasanya stok bawang 20-25 karung, sekarang 10-15 karung aja, kerana mahal makanya stok dikurangi, yang beli juga jumlahnya berkurang,” imbuh Sardi.

dtc/tiw

LOWONGAN PEKERJAAN
SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…