Jumat, 21 Januari 2011 04:46 WIB Wonogiri Share :

Periksa gigi tidak sakit kok...

Oleh: Suharsih

Bocah TK bernama Rahmat itu terlihat gembira bermain bersama teman-temannya di halaman sekolahnya, TK dan PAUD Cipta Mandiri, di Dusun Longkang Sari, Desa Pule, Selogiri, Kamis (20/1).

Kejadian “mengerikan” yang membuatnya menangis beberapa menit sebelumnya telah terlupakan. Dia berbincang dan tertawa-tawa bersama temannya meski matanya masih sembab dan bekas air mata mengering tampak di pipinya.

Rahmat adalah satu di antaranya 80 murid TK dan PAUD tersebut yang kemarin mengikuti acara pembinaan dan pemeriksaan kesehatan gigi yang diadakan pemerintah kecamatan dan  petugas Puskesmas Selogiri. Selain Rahmat, ada beberapa anak lain, laki-laki maupun perempuan yang menangis saat petugas kesehatan menempelkan alat pemeriksa gigi yang dilengkapi cermin dan menyorotkan lampu senter ke mulut kecil mereka.

“Tenang saja, tidak usah menangis, cuma dilihat dan diperiksa giginya, tidak sakit kok. Biar tahu giginya sehat atau nggak,” ucap Camat Selogiri, Bambang Haryanto menenangkan para murid yang menangis itu.

Tapi bukannya berhenti, tangis beberapa bocah itu malah semakin keras. Begitu selesai diperiksa, mereka langsung mundur, merangkul pinggang guru mereka dan menyembunyikan wajah sambil terus menangis. Mereka tidak merasa malu meski ditonton oleh anak-anak lain yang lebih berani dan tidak menangis saat diperiksa giginya.

Di akhir acara, salah satu petugas Puskesmas Selogiri, Sri Sularti mengumumkan dari 80 anak yang diperiksa giginya hari itu, 12 anak di antaranya disarankan untuk dibawa ke Puskesmas untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Kepala UPT Puskesmas Selogiri, dr Pitut Kristianta Nugraha mengatakan pemeriksaan gigi tersebut dimaksudkan untuk mendidik anak agar menjaga kesehatan sejak dini, sekaligus mengetahui kondisi kesehatan anak secara umum. Bila ditemukan ada anak yang kurang sehat, langsung dirujuk untuk ditangani di Puskesmas.

“Dalam acara ini kami juga memberikan penyuluhan kepada orangtua atau walimurid yang biasa mengantar jemput anak-anak mereka agar dapat merawat anak-anak mereka dengan baik. Acara semacam ini akan kami lanjutkan ke tingkat SD dengan fokus pada pemberantasan sarang nyamuk, agar anak memiliki kesadaran menjaga lingkungan sekolah dan rumah,” jelasnya.

Camat Selogiri, Bambang Haryanto menambahkan kesehatan merupakan modal dasar anak agar bisa belajar secara maksimal. Jika anak tidak sehat, maka pendidikan mereka juga bisa terganggu. “Makanya kami juga berencana membentuk perkumpulan ibu-ibu pengantar jemput anak, dan setiap pekan diberi pengarahan tentang pentingnya menjaga kesehatan anak,” kata Bambang.

LOWONGAN PEKERJAAN
FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…