Rabu, 19 Januari 2011 21:20 WIB Hukum,Pendidikan,Solo Share :

Siswa SMP dilarang pakai sepeda motor

Solo(Espos)–Pemerintah Kota (Pemkot) Solo akan mengeluarkan surat edaran (SE) berisi larangan penggunaan sepeda motor bagi siswa SMP. Langkah tersebut dimaksud untuk menekan tingginya angka kecelakaan lalu lintas (Lakalantas) yang melibatkan pelajar.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Solo Yosca Herman Soedrajat kepada wartawan, Rabu (19/1), menjelaskan tingkat Lakalantas sepanjang tahun 2010 didominasi oleh kalangan pelajar. Bahkan, jumlahnya melebihi 50% dari laporan jumlah Lakalantas yang diterima dari sejumlah rumah sakit di Kota Solo yakni 5.766 kasus. Dari 5.766 kasus tersebut, sebanyak 3.942 di antaranya mengakibatkan korban mengalami luka ringan, 1.375 kasus mengakibatkan korban luka berat, dan 70 orang meninggal dunia. “Tingkat kesadaran berlalu lintas siswa SMP itu masih rendah. Itu sebabnya jumlahnya melebihi 50%. Jadi, alangkah lebih baik jika ke depan mereka bisa memanfaatkan jenis kendaraan umum menuju sekolahnya,” terang Yosca.

Sehari sebelumnya, Wakil Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo menyatakan dalam waktu dekat SE berisi larangan penggunaan sepeda motor bagi siswa SMP akan diterbitkan oleh Walikota Solo, Joko Widodo. Menurut Rudy, siswa SMP memang belum layak menggunakan kendaraan bermotor karena rata-rata belum genap berusia 17 tahun. ”Kalau mereka belum memiliki SIM lalu dibiarkan menggunakan kendaraan bermotor di jalan, berarti sama saja kita membiarkan mereka melanggar hukum,” tegasnya. Ketentuan dalam SE itu, sambung Rudy, juga berlaku bagi siswa SMA dan sederajat yang belum genap berusia 17 tahun.

mkd

LOWONGAN PEKERJAAN
SUPERVISOR JAHIT & PENJAHIT HALUS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…