Rabu, 19 Januari 2011 15:48 WIB News Share :

Kasus kekerasan pada perempuan dan anak di Salatiga meningkat tajam

Salatiga (Espos)--Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Salatiga sepanjang tahun 2010 meningkat drastis dibandingkan tahun sebelumnya.

Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan KB dan Ketahanan Pangan setempat mencatat terdapat 42 kasus kekerasan dengan korban perempuan, dan 18 kasus pada anak tahun lalu. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan yang terjadi di tahun 2009 yang hanya tercatat empat kasus pada perempuan dan satu kasus pada anak.

Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan KB dan Ketahanan Pangan Kota Salatiga, Endang DW, melalui Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Siti Andjajanah, mengatakan data tersebut didasarkan pada laporan yang diadukan korban atau keluarganya ke kepolisian. Diduga kuat, jumlah kasus kekerasan di lapangan faktualnya jauh lebih banyak dari yang terdata. “Stigma di masyarakat KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) itu dianggap aib. Jadi para korban malu melapor,” ungkap Andjajanah saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (19/1).

Dari 42 kasus kekerasan pada perempuan, 22 kasus di antaranya adalah KDRT, 18 kasus perkosaan, satu kasus trafficking dan penelantaran. Sementara 18 kasus kekerasan pada anak semua korbannya juga adalah perempuan, dua di antaranya berusia di bawah 16 tahun. Jenis kekerasan yang dialami adalah pelecehan seksual. Lebih jauh ia memaparkan, rendahnya tingkat pendidikan serta kondisi ekonomi keluarga menjadi pemicu dominan munculnya kasus kekerasan terhadap perempuan. Faktor lainnya adalah kondisi lingkungan sosial dan karakter pelaku sendiri.

kha

LOWONGAN PEKERJAAN
Administrasi ( Wanita ) & Manager ( Pria), informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…