Rabu, 19 Januari 2011 15:15 WIB News Share :

Gayus kecam pihak yang setting dan cicil kasusnya

Jakarta–Gayus Tambunan menyesalkan kemunculan beruntun temuan baru mengenai ulahnya selama proses hukum kasus mafia pajak. Kemunculan yang dilakukan tidak sekaligus tersebut, mengesankan dirinya adalah penjahat jagoan di Indonesia.

Penjelasan ini dia sampaikan setelah majelis hakim menjatuhkan hukuman tujuh tahun penjara dan denda Rp 300 juta di PN Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Jakarta, Rabu (19/1/2010).

Sebelumnya Gayus memuji putusan majelis hakim yang menurutnya murni berdasarkan surat dakwaan. “Tidak seperti pihak-pihak tertentu yang setting dan cicil perkara sehingga dikesankan saya penjahat nomor satu di negeri ini,” gugat Gayus dengan suara yang terdengar bergetar.

Tidak disebutkan secara jelas siapa pihak-pihak tertentu yang dia maksud. Tetapi di bagian selanjutnya, mantan PNS di Ditjen Pajak ini mengungkapkan kekecewaannya terhadap Satgas Pemberantasan Mafia Hukum yang dia nilai telah menyalahi komitmen awal kerja sama yang mereka sepakati saat dia dijemput di Singapura.

“Padahal awalnya saya komitmen kepada Satgas (Satgas Pemberantasan Mafia Hukum -red), buat membongkar mafia pajak dan menjadikan Indonesia lebih baik,” sesal Gayus.

Proses hukum kasus Gayus Tambunan yang berlangsung sejak pertengahan tahun lalu memang sangat menyedot perhatian masyarakat. Hampir tiap bulan selalu ada kejutan baru yang diungkap ke permukaan.

Di antaranya adalah kasus nonton tennis di Bali yang kemudian diseret-seret menjadi isu politik, jalan-jalan ke luar negeri, hingga kasus paspor palsu dan paspor Guyana. Khusus untuk kasus paspor Guyana, tim kuasa hukum menudingnya sebagai hasil konspirasi antara polisi dengan intelejen.

dtc/tiw

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…