Rabu, 19 Januari 2011 23:29 WIB Tak Berkategori Share :

Bawang merah impor serbu pasar tradisonal

Solo (Espos)–Bawang merah impor asal Bangkok, Thailand mulai menyerbu pasar tradisional di Kota Solo. Hal itu menyusul kenaikan harga bawang merah lokal yang mencapai 28%.

Sejak tiga hari lalu, harga bawang merah bertengger di Rp 23.000/kilogram (kg). Harga tersebut meningkat 28% dibanding harga semula yang hanya Rp 18.000/kg. Sedangkan harga bawang merah impor yang saat ini dipatok Rp 21.000/kg, lebih rendah dibanding bawang merah lokal.

Pedagang Pasar Legi, Mulyani, saat ditemui Espos, di Pasar Legi, Rabu (19/1), mengatakan bawang merah impor mulai menyerbu pasar tradisional tempat dia berdagang, meskipun tidak semua pedagang bersedia menjual bawang impor tersebut. Serbuan bawang merah impor, dinilainya terjadi sejak kenaikan harga bawang merah lokal yang mencapai Rp 5.000/kg. Angka kenaikan sebesar itu belum pernah terjadi selama ini.

Dia juga menilai kenaikan harga bawang merah sangat mengejutkan. Pasalnya, kenaikan harga itu tidak diikuti kenaikan bawang putih. Padahal, dalam sejarahnya, harga bawang merah tidak pernah melebihi harga bawang putih. Mulyani mengatakan kenaikan harga terjadi tidak berangsur-angsur melainkan sekaligus. “Saya juga heran, kok tiba-tiba naik. Penyebabnya apapun saya juga tidak tahu. Kalau panen terbatas tidak mungkin, karena nyatanya harga bawanh putih tetap Rp 17.000/kg. Sekarang, banyak pedagang yang mulai menjual bawang merah impor,” jelas Mulyani.

Lebih jauh, dia melanjutkan bawang merah yang beredar di Pasar Legi berasal dari Brebes, Probolinggo dan Pemalang. Jumlah pasokan bawang merah sejauh ini normal, namun harganya naik. Disinggung mengenai kemungkinan ulah oknum yang menimbun bawang merah, Mulyani menilai hal itu tidak mungkin terjadi. Pasalnya bawang merah adalah barang dagangan basah yang gampang membusuk jika disimpan terlalu lama.

Sementara itu, kendati bawang merah impor menyerbu, dia mengaku tidak khawatir. Mulyani yakin bawang merah lokal tetap diminati pembeli, karena memiliki cita rasa yang lebih baik daripada bawang merah impor. “Bawang merah lokal ini lebih sedap kalau untuk bumbu. Kalau memang ada pedagang yang memilih menjual bawang merah impor, mungkin karena fisiknya memang lebih bagus dan yang pasti untuk saat ini lebih murah,” ujar dia.

Pedagang lain, Reni mengakui banyak pembeli mulai melirik bawang merah impor asal Bangkok, Thailand, seban harganya lebih murah. Lagipula, bentuk fisik bawang merah impor juga lebih bagus, lebih terlihat segar dan besar. Reni sendiri sudah sejak dulu menjual bawang merah impor, tetapi dalam jumlah kecil. Kini, saat harga bawang merah lokal naik drastis pihaknya mulai mempertimbangkan untuk menambah jumlah stok dagangan. “Ya ada yang pilih jenis impor, karena lebih murah. Tapi ya belum banyak. Saya sendiri menyediakan dalam jumlah mencukupi,” urai Reni.

tsa

lowongan pekerjaan
Editor,Setter,Ilustrator, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Leave a Reply


Iklan Cespleng
  • MOBIL DIJUAL JL CPT Taft GT4x4’94,Body Kaleng,Ori,Asli KLATEN:081391294151 (A00593092017) DP Mura…
  • LOWONGAN CARI PTIMER 2-4 Jam/Hari Sbg Konsltn&SPV Bid.Kshtn All Bckgrnd Smua Jursn.Hub:0811.26…
  • RUMAH DIJUAL Jual TNH&BGN HM 200m2,LD:8m,Strategis,Makamhaji,H:08179455608 (A00280092017) RMH LT13…
Lihat Semua Iklan baris!

Kolom

GAGASAN
Bangjo untuk Citra Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (19/9/2017). Esai ini karya Sugeng Riyanto, Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah ust.sugeng@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Dalam rapat kerja Komisi III DPRD Kota Solo bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Kota…