Selasa, 18 Januari 2011 20:04 WIB Sukoharjo Share :

Virus kerdil hampa serang 159 ha sawah

Sukoharjo (Espos)--Tanaman padi seluas 159 hektare (ha) di Sukoharjo diserang virus kerdil hampa. Virus tersebut terjadi seiring dengan meningkatnya jumlah populasi hama wereng batang cokelat di Kota Makmur.

Salah seorang petani asal Kelurahan Sonorejo, Sukoharjo, Giman Yitno, kepada Espos mengungkapkan seperempat hektare tanaman padi miliknya yang baru berusia sekitar 40 hari terkena penyakit tersebut. Akibat serengan virus itu, tanaman padinya mati karena daunnya memerah dan kering.

“Sudah rusak dan mati semuanya, daunnya seperti terbakar. Tanamannya juga tidak bisa tumbuh maksimal. Padahal saat umur 20 hari, tanaman itu masih kelihatan bagus,” beber Giman Yitno yang juga Ketua II Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sukoharjo tersebut.

Akibat serengan virus kerdil hampa, Giman Yitno mengaku menderita kerugian jutaan rupiah. Menurutnya, virus tersebut tidak hanya melanda pada tanaman padinya saja. Namun, sebagian besar tanaman padi di Kelurahan Sonorejo juga ikut terkena virus itu.

“Kalau tanaman padi milik saya yang mati saya biarkan saja. Soalnya saya takut kalau ditanam lagi, nanti mati lagi. Tapi kalau petani-petani lain banyak juga yang ditanam ulang,” terang dia.

Untuk wilayah Sonorejo, imbuh dia, sampai saat ini belum mendapatkan bantuan dari pemerintah atau Dinas Pertanian (Dispertan) Sukoharjo. Pihaknya mendesak Dispertan segera melakukan tindakan atas virus yang penyebarannya dilakukan hama wereng cokelat itu.

Terpisah, Koordinator Pengamatan Hama dan Penyakit Dispertan Sukoharjo, Samidi, mengakui ratusan tanaman padi di Sukoharjo saat ini terserang virus kerdil hampa. Serangan terberat yakni berada di Kecamatan Sukoharjo seluas 129 ha, Mojolaban seluas 20 ha serta Kecamatan Grogol seluas 10 ha.

“Hasil laporan serangan virus kerdil hampa per 1-15 Januari ini, menyatakan kalau ada 159 ha tanaman padi yang terserang. Paling parah di Sukoharjo,” urai dia.

Virus tanaman kerdil itu berkembang seiring dengan tingginya populasi hama wereng cokelat yang menyebarkan virus tersebut. Samidi mengungkapkan populasi hama wereng cokelat rata-rata di tiap wilayah mencapai 15-58 ekor per rumpun. Pengendalian penyakit tersebut, yakni dengan eradikasi atau pemusnahan tanaman yang diserang dengan dibenam atau dibakar.

“Untuk itu, pengamatan dini terhadap hama dan penyakit sangat penting. Dispertan juga akan memberi bantuan berupa solar untuk pengolahan tanah dan obat penyakit,” pungkas dia.

hkt

LOWONGAN PEKERJAAN
QUALITY CONTROL DAN ADMIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Meme, Tiang Listrik, dan Humor Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (21/11/2017). Esai ini karya Aris Setiawan, esais yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah segelas.kopi.manis@gtmail.com. Solopos.com, SOLO–Setelah foto dirinya terbaring sakit dengan berbagai peralatan medis menempel di tubuhnya beberapa waktu lalu…