Selasa, 18 Januari 2011 22:55 WIB Ekonomi Share :

Penjualan sukuk ritel 2010 tumbuh 45%

Solo (Espos)–Penjualan sukuk negara ritel secara nasional dalam dua tahun terakhir tumbuh 45%. Pada tahun 2009, sukuk ritel hanya diminati 14.295 investor dengan nilai investasi Rp 5,556 triliun.

Sedangkan pada tahun 2010, jumlah peminat melonjak menjadi 17.231 investor dengan nilai investasi Rp 8,033 triliun. Hasil positif itu membawa optimisme bagi 20 agen penjualn sukuk negara ritel tahun 2011. Tak tanggung-tanggung, mereka mematok target pencapaian nilai investasi hingga Rp 7 triliun. Angka itu meningkat 61% dari target 2010, yang hanya Rp 4,350 triliun.

Kepala Seksi Pelaksanaan Transaksi Direktorat Pembiayaan Syariah Ditjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Agus Prasetya Laksono mengatakan capaian penjualan sukuk negara ritel seri 1 dan seri 2 menunjukkan hasil positif. Selain tampak dari nilai investasi dan jumlah investor, hasil positif itu juga terlihat dari pertumbuhan jumlah agen penjual.

“Pada 2009 agen penjual hanya 13 agen. Di tahun 2010 menjadi 18 agen dan pada tahun 2011 ini meningkat lagi menjadi 20 agen penjual. Hal ini menunjukkan semakin tingginya kepercayaan pelaku pasar pada produk sukuk negara ritel yang sebelumnya belum diperhitungkan,” jelas Agus, saat ditemui wartawan, di sela-sela menjadi pembicara dalam talkshow mengenai sosialisasi sukur negara ritel seri 3, di Novotel Hotel, Selasa (18/1).

Terkait penawaran sukuk ritel seri 3, Agus menjelaskan sukuk ritel ditawarkan dalam nominal Rp 1 juta per unit, dengan minimum pemesanan Rp 5 juta atau kelipatannya. Penawaran rencananya dilaksanakan 7-18 Februari. Sukuk akan diterbitkan 23 Februari 2011. Dengan tenor 3 tahun, sukuk ritel seri 3 ini akan jatuh tempo pada 23 Februari 2014.

Lebih jauh, Agus menyebut sukuk negara ritel lebih menguntungkan dibanding investasi lain. Keuntungan, bebernya, diperoleh dalam bentuk imbalan sukuk, pajak yang lebih rendah dari deposito hanya 15%, dan jaminan bahwa investasi ini telah dinyatakan sesuai syariah oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI. “Saya pikir jaminan ini yang lebih memberi ketenangan pada investor,” ujarnya.

Sementara itu, untuk tahun ini, Solo kembali menjadi sasaran disamping kota-kota besar lain di Tanah Air. Selama penjualan sukuk ritel seri 1 dan 2, Agus menyadari konsentrasi investor sukuk lebih banyak di kawasan Indonesia bagian barat. Namun, tahun ini, pihaknya akan melebarkan sayap ke wilayah Indonesia tengah dan timur. Berdasarkan catatannya, kawasan Indonesia barat mendominasi penjualan sukuk sampai 52,41 %.

Pandangan positif atas sukuk negara ritel disampaikan pimbicara lain di PT Bursa Efek Indonesia. Kepala Devisi Penilaian Perusahaan Surat Utang PT Bursa Efek Indonesia, Saptono Adi Junarso menunjukkan nilai positif itu dengan membandingkan persentase imbalan sukuk ritel dibandingkan deposito pada tahun 2010. Sukuk ritel seri 2 itu dibeli dengan imbalan 8,7% per tahun dan dijual tiga bulan kemudian.

tsa

LOWONGAN PEKERJAAN
Administrasi ( Wanita ) & Manager ( Pria), informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…