Minggu, 16 Januari 2011 09:10 WIB Issue Share :

“Mengawinkan” tradisional dan elegan dalam satu busana...

Alunan musik samba membuka penampilan belasan model di atas panggung. Lenggak lenggok gerak tubuh para model itu begitu sempurna, apalagi saat cahaya temaram lampu panggung menyorot busana mereka. Busana berbahan dasar batik dengan pewarna alam tampil sangat elegan nan seksi. Tangan dingin desainer Catur Wijaya sukses menyulap busana tradisional Tanah Air, seperti baju bodo, kemben dan kebaya berbahan kain batik menjadi busana pesta nan elegan.

Dua belas koleksi busana yang ditampilkan dalam malam peluncuran program Mamamiazz, di Ballroom Hotel Lorin, Sabtu (15/1), menjadi bukti kepiawaian desainer kondang itu mengawinkan dua karakter yang sering dianggap berseberangan. Catur memang sengaja menonjolkan keunikan motif dan warna kain batik pewarna alam koleksi Ndalem Batik Sekar Setaman, Nusukan Banjarsari, dengan meminimalisir penggunaan perhiasan. Meski tanpa perhiasan, kesan elegan tetap tampak dari kombinasi lilitan dan simpul yang membuat penampilan para model, sukses menyihir seratusan tamu undangan. Apalagi dengan sepatu dari bahan kulit ular, makin sempurnalah kesan elegan itu.

“Di sini saya ingin menampilkan kain batik dengan pewarnaan alam. Warna yang natural dengan sedikit tambahan batu, payet dan halon (sejenis payet-), logam, lalu kain yang dililitkan. Ternyata kain batik pun bisa tampil elegan dan modern,” urai Catur, saat ditemui Espos, di sela-sela acara, Sabtu malam.

Dalam show-nya kali ini, Catur sengaja menampilkan dua tema busana. Penampilan pertama mengusung busana coktail, yaitu busana pesta yang biasa dipakai sore hingga menjelang malam. Sedangkan pada penampilan kedua, desainer yang telah melalangbuana ke berbagai festival fashion, mulai dari Jogja Fashion Week, Bali Fashion Week, hingga tampil di acara serupa di luar negeri tersebut, menyuguhkan busana dengan kesan etnik. “Busana etnik ini lebih banyak kain-kain yang dililitkan dengan gaya minimalis alias dengan sedikit perhiasan,” imbuh dia.

Model Agencies, Budi Hans menilai kain batik Indonesia sebenarnya fenomenal dan layak disandingkan dengan rancangan busana macam apapun, termasuk yang modern. Rancangan sendiri tepat disuguhkan dihadapan kolega dan para tamu Hotel Lorin yang berasal dari banyak kalangan. Menurutnya kain batik bisa masuk ke semua kalangan.

Sementara itu, Mamamiazz sendiri merupakan program yang digulirkan Hotel Lorin untuk memuaskan tamu. General Manager Hotel Lorin, Mudia Trianamaja mengatakan Lorin ingin memberikan apresiasi pada tamu dengan memberi kesempatan mendapatkan berbagai hadiah, dengan hadiah utama Honda Jazz.

Seluruh tamu hotel yang belanja Kampung Ikan dan Restoran Sasono Budoyo senilai minimal Rp 200.000 berhak mendapatkan satu kupon. Kupon juga diberikan pada tamu yang belanja sampai minimal Rp 1 juta pada pesta bulanan. “Kupon akan diundi pada akhir tahun. Ini adalah bentuk penghargaan kami pada tamu Lorin,” ujar Mudia.

tsa

LOWONGAN PEKERJAAN
Editor Biologi, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…