Sabtu, 15 Januari 2011 13:50 WIB News Share :

PMI bangun pabrik kantong darah berkapasitas 7 juta kantong

Malang–Palang Merah Indonesia (PMI) membangun pabrik kantong darah dengan kapasitas produksi sebanyak 7 juta kantong per tahunnya. Perusahaan ini dibangun awal tahun 2011 dengan nilai investasi senilai Rp 60 miliar.

“Kami bangun pabrik kantong darah dengan kemampuan produksi 7 juta kantong per tahunnya,” kata Ketua Umum PMI, Jusuf Kalla usai penandatangan Mou Keamanan Darah di Indonesia bersama Novartis Diagnotis (HK) Limited di Hotel Santika Jalan Letjen Sutoyo, Sabtu (15/1).

Menurutnya, pembangunan pabrik ini bisa menekan ketergantungan atas kantong darah, selama ini masih menunggu impor dari luar negeri untuk mendapatkannya. “Kita selama ini impor,” tuturnya.

Dia menambahkan, pabrik dibangun di kawasan Bekasi, Jawa barat dengan investasi Rp 60 miliar yang didapatkan dari dana patungan, antara PMI dengan perusahaan swasta tanah air. “Dana kita shearing dengan perusahaan swasta tanah air,” bebernya.

Mantan Wapres RI Periode 2004-2009 ini mengaku, pabrik sudah dibangun awal tahun ini dan diharapkan segera beroperasi, agar bisa memenuhi kebutuhan kantong darah di tanah air. “Selama ini kita impor untuk kantong darah, dengan pabrik ini, produksi lokal bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri,” tandasnya.

Selain membangun pabrik kantong darah, lanjut Jusuf Kalla, PMI pada akhir 2011 juga mendirikan pabrik vaksin darah. Tujuan sama, untuk menghilangkan ketergantungan impor vaksin darah.

Meski begitu, Jusuf Kalla masih merahasiakan lokasi dan nilai investasinya. “Dua perusahaan ini merupakan program kerja PMI Tahun 2011,” paparnya.

dtc/tiw

LOWONGAN PEKERJAAN
Bagian Legal, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…