Sabtu, 15 Januari 2011 01:38 WIB Sragen Share :

Petani di Tanon desak pengawasan harga obat wereng

Sragen (Espos)–Maraknya serangan hama wereng diduga dimanfaatkan para penjual obat untuk meraup keuntungan. Para petani mengaku kerap menjumpai harga obat naik dalam selang waktu kurang dari 24 jam.

Terkait hal itu, mereka menilai perlu dilakukan pengendalian harga di lapangan. Ketua Kelompok Tani Makmur Desa Kecik, Kecamatan Tanon, Paniyo, mengatakan harga obat wereng begitu mudah naik, terutama sejak serangan wereng mengganas dua pekan terakhir. Kondisi ini diakuinya sangat menyusahkan sekaligus merugikan para petani. “Pagi saya beli obat wereng masih seharga Rp 70.000 per 500 ml. Tapi siangnya, saat akan beli lagi disuruh bayar Rp 74.000 per 500 ml. Ada juga yang harganya Rp 60.000 menjadi Rp 66.000. Kata pedagangnya, harga memang segini, kalau tidak mau tidak apa-apa. Masih ada orang lain yang mau,” tutur Paniyo, kepada Espos, Jumat (14/1).

Terkait hal tersebut, dia menilai perlu dilakukan pengawasan agar harga obat wereng terkendali. Kendati demikian, Paniyo mengakui meski harga obat pembasmi wereng bergerak naik, petani tetap membeli sesuai harga tersebut, lantaran merasa perlu. Dia sendiri mengaku menghabiskan lebih dari Rp 400.000 untuk membeli obat pembasmi wereng setiap kali melakukan penyemprotan. Padahal penyemprotan dilakukan paling tidak 3-4 hari sekali, atau lebih sering jika serangan wereng kian parah.

Di sisi lain, kenaikan harga obat pembasmi wereng baik dalam bentuk cair maupun serbuk, membuat petani berinisiatif mencampurkan obat dengan bahan kimia yang biasa digunakan untuk membasmi nyamuk, seperti obat  nyamuk cair dan obat nyamuk oles. Paniyo menyebut, untuk obat nyamuk oles misalnya, petani mencampurkan satu sachet obat tersebut dalam tiap tangki berisi 13 liter insektisida standar. Selanjutnya obat tersebut disemprotkan di areal tanaman padi.

Selain itu, petani kerap menggunakan bahan bakar minyak jenis solar yang diteteskan pada air irigasi yang mengaliri sawah. “Lalu, rumpun padi digoyang-goyangkan agar wereng yang menempel pada daun padi jatuh ke air dan mati karena terkena solar. Sayangnya cara ini tidak bisa dipakai kalau padi sudah berbunga, karena akan mengganggu penyerbukan,” ujar Ketua Kelompok Tani Gemah Ripah Desa Pringanom, Masaran, Agus Purwanto.

Sementara itu, Koordinator Penyuluh Lapangan Kecamatan Tanon, Bukhori menegaskan sejauh ini harga obat pembasmi wereng ditentukan bebas di pasaran. Artinya, meskipun terjadi kenaikan, pemerintah tidak dapat melakukan intervensi. Dalam hal ini, langkah pemerintah hanyalah memberikan bantuan insektisida secara gratis sepanjang serangan wereng dinilai sangat parah.

Lebih jauh, dia memandang, selama ini harga obat pembasmi wereng masih dalam kategori wajar. Meski terjadi sedikit kenaikan, namun hal itu dianggapnya wajar karena dipicu kenaikan permintaan. “Saya lihat selama ini masih normal. Yang jelas, pemerintah tidak bisa intervensi. Harga obat wereng, sebagaimana pestisida lain ditentukan oleh pasar. Beda dengan pupuk, ada pupuk bersubsidi yang ditangani pemerintah,” jelasnya.

tsa

LOWONGAN PEKERJAAN
Tegar Transport Hotel Paragon Solo, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…