Jumat, 14 Januari 2011 22:37 WIB Sukoharjo Share :

Pasokan elpiji 3 Kg di beberapa kecamatan tersendat

Sukoharjo  (Espos)–Pasokan elpiji 3 kilogram (Kg) di beberapa kecamatan di Kabupaten Sukoharjo beberapa waktu terakhir. Pengecer terpaksa saling membeli dan berpindah-pindah agen untuk mendapatkan bahan bahan bakar bersubdisi itu jika persediaan sedang kosong.

Pengecer elpiji 3 Kg di Dukuh Platar Desa Puron, Bulu, Hari Hendrawati, 41, menyebutkan pasokan gas tidak lancar sejak hari raya Idul Adha lalu. Hal itu mengakibatkan stok elpiji 3 Kg sering tidak tersedia di eceran. Guna mengantisipasi kekosongan terlalu lama, dia mencari ke agen berbeda-beda.

“Semula saya hanya ambil (elpiji 3 Kg) dari satu agen saja di Sukoharjo Kota. Tapi belakangan ini pasokan sering terlambat. Terpaksa kami harus mencari–cari dari satu agen ke agen lainnya ketika sedang tidak mempunyai stok,” ungkapnya saat ditemui Espos di tokonya, Jumat (14/1) pagi.

Hari mengatakan mendapat pasokan elpiji 3 Kg terakhir dari agenlangganan di Sukoharjo sekitar dua pekan lalu, sebanyak 51 buah tabung. Dia mengaku sejak saat itu tidak menerima kiriman lagi meski berkali-kali meminta. “Di agen lain kadang beda harga, tapi lebih baik daripada tidak punya.”

Pengecer lain di Grajegan, Tawangsari, Dedi, 20, menyatakan hal senada. Dia bahkan menyatakan sering tidak memiliki stok elpiji 3 Kg dalam waktu cukup lama. Kondisi itu tak jarang menimbulkan kebingungan konsumen dimana mencari bakar pengganti minyak tanah tersebut.

Dikemukakan, harga elpiji 3 Kg dari agen senilai Rp 15.000/tabung dan dijual dengan Rp 16.000-Rp 16.500/tabung.

“Di sini sudah satu bulan terakhir pasokan selalu telat. Kadang-kadang sampai satu minggu tak ada stok elpiji 3 Kg sama sekali. Informasinya memang dari sana (distributor) sudah sulit,” sambungnyaditemui secara terpisah di tokonya di Dukuh Grogol RT 01/RW I, Grajegan, Kecamatan Tawangsari.

Tak hanya di Bulu dan Tawangsari, pengecer elpiji 3 Kg di Kecamatan Weru, mengeluhkan persoalan yang sama. Pengecer di Dukuh Turen Brumbung, Desa Karakan, Sri Lestari, 49, mengaku sering tak memiliki stok karena pasokan yang tidak lancar. Kondisi tersebut sangat menyulitkan warga karena elpiji 3 Kg menjadi bahan bakar utama setelah minyak tanah bersubsidi ditarik dari peredaran.

“Seperti di daerah-daerah lain, di Weru juga sering susah mencari elpiji 3 Kg. Karena itu di eceran pun kadang-kadang tidak punya stok. Padahal meskipun di perkampungan, sebagian besar warga juga sudah menggunakan gas. Lebih mudah dan praktis,” jelas Sri Lestari ditemui saat menjaga kiosnya.

Informasi yang dihimpun Espos, selain di tiga kecamatan tersebut, pasokan elpiji 3 Kg juga tersendat di daerah-daerah lain. Tidak diketahui secara pasti penyebabnya, namun hal itu diduga akibat sistem distribusi bahan bakar bersubsidi tersebut yang semakin diperketat.

try

LOWONGAN PEKERJAAN
PT.NSC FINANCE, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…