JENAZAH KORBAN—Sejumlah warga mengusung peti berwarna coklat berisi jenazah korban TKW, Sulastri, 39, yang tewas di Arab Saudi ke dalam rumah duka di Dukuh Cemeng RT 8/RW III, Plumbon, Sambungmacan, Sragen, Jumat (14/1). (FOTO: Espos/Tri Rahayu)
Jumat, 14 Januari 2011 19:55 WIB Sragen Share :

Isak tangis keluarga sambut kedatangan jenazah TKI

JENAZAH KORBAN—Sejumlah warga mengusung peti berwarna coklat berisi jenazah korban TKW, Sulastri, 39, yang tewas di Arab Saudi ke dalam rumah duka di Dukuh Cemeng RT 8/RW III, Plumbon, Sambungmacan, Sragen, Jumat (14/1). (FOTO: Espos/Tri Rahayu)

Sragen (Espos)--Jenazah tenaga kerja Indonesia (TKI) yang tewas di Arab Saudi akibat jatuh dari ketinggian, Sulastri, 39, akhirnya tiba di rumah duka di Dukuh Cemeng RT 8/RW III, Desa Plumbon, Sambungmacan, Sragen, Jumat (14/1) sekitar pukul 11.00 WIB. Kedatangan jenazah yang diantar dengan mobil ambulan milik Yayasan Al Jubaedah yang beralamat di Jatinegara, Jakarta Timur Nopol B 8028 MG.

Kabar kepulangan jenazah tenaga kerja wanita (TKW) itu sudah terdengar keluarga korban sejak Rabu (12/1). Empat orang keluarga korban segera ke Jakarta untuk menjemput jenazah yang rencananya bakal tiba di Bandara Sukarno-Hatta pada Kamis (13/1) pukul 15.30 WIB. Keempat orang itu terdiri atas kakak kandung korban Sriyanto, 43, adi kandung korban Narwanto, 28, keponakan Agus Paryono, 37, dan suami korban Suparjiyo, 48.

“Namun setibanya di Jakarta ternyata pesawat yang mengirim jenazah terlambat. Kami terpaksa menunggu hingga pukul 21.30 WIB jenazah baru tiba. Kami sempat meminta kepada perusahan pengiriman tenaga kerja PT Amri Margatama untuk mengautopsi jenazah, karena kematiannya tidak wajar. Namun permintaan kami ditolak dan jika tetap mengehendaki autopsi harus izin ke Polda Jateng. Daripada bolak balik dan kasihan jenazah, akhirnya jenazah kami bawa pulang,” ujar Sriyanto saat dijumpai wartawan di sela-sela prosesi pemakaman korban.

Isak tangis keluarga dan kerabat serta tetangga dekat korban tak terbendung. Suami korban Suparjiyo pun tak mampu menahan duka yang mendalam. Belum sempat menginjakkan kaki di halaman rumahnya, Suparjiyo jatuh pingsan. Demikian pula ketika peti jenazah dimasukkan ke rumah duka, jeritan tangis menggema. Adik kandung perempuan korban pun turut pingsan lantaran tak kuasa melihat jasat korban yang dikabarkan tewas sejak pertengahan Oktober 2010.

Ratusan tetangga pun turut menyaksikan suasana duka dan turut meneteskan air mata. Aparat kepolisian Polsek Sambungmacan dan Reskrim Polres Sragen dipimpin Kasatreskrim AKP Y Subandi dan Kapolsek Sambungmacan AKP Yohanes Tristanto segera mengambil dokumentasi. Sejumlah kerabat dan keluarga korban diminta menyaksikan saat aparat membuka peti jenazah. Sesosok tubuh membujur di dalam peti jenazah yang berdinding alumunium. Jenazah korban diselimuti kain hitam dan di bawahnya diberi pasir.

Seorang aparat perlahan membuka tali kain kafan berwarna putih. Sontak jeritan tangis kembali menggema dari keluarga korban, karena tak kuasa melihat jasat korban yang maish utuh. Beberapa tetangga kembali mengerumunkan peti jenazah. Setelah dirasa cukup, AKP Y Subandi meminta kepada para warga dan keluarga untuk bersabar dan keluar ruangan. Aparat segera menutup peti jenazah dan dilanjutkan prosesi pemakaman jenazah ke makam desa setempat.

trh

lowongan pekerjaan
Harian Umum SOLOPOS Account Executive, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Musik untuk Palestina

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (12/12/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pendengar musik metal ala Timur Tengah. Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bikin masalah lagi….