Jumat, 14 Januari 2011 22:23 WIB Klaten Share :

Pengungsi pusing tanggung biaya listrik

Klaten (Espos)--Sebanyak 500-an warga Desa Balerante, Kemalang, Klaten mulai pusing memikirkan biaya listrik prabayar yang telah terpasang di masing-masing selter mereka. Sebab, dalam pekan ini selter yang menjadi hunian sementara tersebut bakal diserahkan kepada warga yang menjadi korban erupsi Merapi.

Kepala Dusun III Balerante, Jainu mewakili warganya mengaku bingung dengan pemasangan instalasi listrik prabayar di masing-masing selter warga. Kebingungan warganya tersebut, kata Jainu, sangat beralasan. Pertama ialah terkait masa tanggap darurat bencana Merapi telah dicabut. Kedua, saat ini banyak warganya yang mulai kelimpungan karena pekerjaan utama warganya sebagai penggali pasir mulai sepi permintaan lantaran melimpahnya pasir di mana-mana. “Kalau warga yang harus membayar listrik prabayar sendiri, saya meragukan kemampuan warga,” kata Jainu saat ditemui Espos di Bumi Kepurun Manisrenggo, Jumat (14/1).

Saat ini, kata Jainu, warganya yang tak memiliki  rumah masih tersebar di dua lokasi pengungsian. Pertama di Bumi Perkemahan Kepurun Manisrenggo. Kedua di aula serbaguna Balai Desa Ngemplak Seneng, Manisrenggo. Meski mereka tak memiliki rumah, namun saat ini warga tetap bertahan dengan mengandalkan logistik sisa bantuan secara bersama-sama. “Kalau siang, warga saya kerja mencari pasir untuk tambahan pendapatan. Namun, akhir-akhir ini mengaku kesulitan menjual pasir. Persediaan banyak, tapi permintaan tak ada,” paparnya.

Kondisi itulah yang kini membuat warga pengungsian khawatir jika nantinya masih harus menanggung biaya listrik prabayar di hunian sementara. “Dulu memang dikasih uang Rp 5 juta untuk rehab. Tapi, saya yakin sekarang juga sudah habis karena sebagian sudah untuk rehab dan untuk keperluan lainnya,” paparnya.

Mengenai nasib 100-an rumah warganya yang hancur, Jainu mengaku belum mendapatkan informasi kapan rumah wargaya akan dibangun kembali. Yang jelas, saat ini warganya baru diberi kepastian menempati selter sebagai hunian sementara. “Bantuan Rp 5 juta yang diberikan warga kami itu bukan dari Pemkab. Namun, dari bantuan hasil infak para PNS se-Klaten. Kalau dana dari pemerintah untuk membangun rumah kembali rumah, saya belum tahu,” paparnya.

Sementara itu, pengawas proyek pembangunan selter dari Dinas Cipta Karya Jawa Tengah, Rudi Dwi Sulistiyo memastikan semua selter sebanyak 168 rampung dalam pekan ini. “Pembangunan selter terus dikebut, diharapkan pada deadline waktu penyerahan pada 19 Januari nanti, sudah siap,” katanya.


asa

LOWONGAN PEKERJAAN
QUALITY CONTROL & ADMIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…