Rabu, 12 Januari 2011 04:32 WIB Sragen Share :

Serangan wereng mengancam 436 ha sawah di Sragen

Sragen (Espos)–Serangan wereng di Bumi Sukowati mengancam tujuh kecamatan dengan luas areal sawah mencapai 436 hektare (ha). Pengendalian Organisme Penganggu Tanaman-Pengamat Hama Penyakit (POPT-PHP) Sragen mencatat wereng mulai menyerang 10 ha areal sawah di Kecamatan Sambungmacan dan Kedawung.

Koordinator POPT-PHP Sragen Salimin saat dijumpai Espos, Selasa (11/1) di kantornya mengungkapkan serangan wereng dengan intensitas ringan baru terjadi di dua kecamatan, yakni Sambungmacan dan Kedawung. Namun ancaman serangan wereng, kata dia, terjadi di areal persawahan seluas 436 ha yang menyebar di tujuh kecamatan. Selain di Sambungmacan dan Kedawung, jelas dia, ancaman serangan wereng juga terjadi di Kecamatan Gondang, Sidoharjo, Plupuh, Sukodono dan Masaran.

“Areal persawahan yang diserang jumlahnya bervariasi antara 14-250 ha. Ancaman paling besar terjadi di wilayah Kecamatan Sambungmacan yang mencapai 250 ha. Tanaman padi yang diserang berumur antara 60-70 hari. Petani harus gencar melakukan antisipasi serangan wereng secara swadaya dan masif, mengingat perkembangan populasi wereng cukup cepat,” ujar Salimin.

Dia menerangkan satu pasang indukan wereng mampu menetaskan wereng sebanyak 600 ekor di alam bebas dalam jangka waktu satu pekan. Pertumbuhan wereng itu jika di laboratorium, terangnya, bisa mencapai 1.000 ekor per pekan untuk satu pasang indukan. Serangan wereng di Sragen ini, menurut dia, merupakan wereng migran dari daerah lain, seperti Sukoharjo, Boyolali atau Klaten.

Sebagai upaya antisipasinya, sambung Salimin, POPT-PHP Dinas Pertanian Sragen bekerjasama dengan Laboratorium PHP Surakarta memberikan bantuan insektisida sebanyak 115,6 liter untuk 410 lahan di tujuh kecamatan tersebut. “Bantuan insektisida tidak hanya diberikan bagi areal persawahan yang terserang, yang masih taraf ancaman juga diberi bantuan yang bersifat stimulan. Bantuan itu idealnya diberikan kepada petani yang kewalahan menangani wereng. Namun untuk mempertahankan produksi gabah, sawah yang terancam pun tetap diberi bantuan,” tegas Salimin.

Untuk memutus siklus pertumbuhan wereng, lanjutnya, harus membiarkan lahan pertanian kering tidak ditanami atau ditanami palawija. Namun melihat kebiasaan petani di Sragen, paparnya, upaya itu tidak mungkin dilakukan pada musim ini. Untuk antisipasinya, Salimin mengimbau kepada petani terus meningkatkan penyemprotan swadaya untuk menghambas laju pertumbuhan wereng.

trh

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…