MENYEBERANG SUNGAI—Sejumlah warga Dukuh Bangunsari, Desa Klakah terpaksa menyeberangi sungai di aliran Kali Juweh, setelah jembatan Bangunsari terputus akibat diterjang banjir lahar dingin Merapi. Foto diambil Rabu (12/1). (FOTO: Espos/Ahmad Mufid Aryono)
Rabu, 12 Januari 2011 21:51 WIB Boyolali Share :

Gerimis, memilih menyingkir dari Kali Juweh...

MENYEBERANG SUNGAI—Sejumlah warga Dukuh Bangunsari, Desa Klakah terpaksa menyeberangi sungai di aliran Kali Juweh, setelah jembatan Bangunsari terputus akibat diterjang banjir lahar dingin Merapi. Foto diambil Rabu (12/1). (FOTO: Espos/Ahmad Mufid Aryono)

Musim hujan seperti saat ini, bagi sebagian orang memberikan pertanda baik, salah satunya untuk menyirami lahan pertanian. Namun, bagi warga di lereng Merapi, musim hujan juga menjadi pertanda agar lebih waspada. Terlebih setelah Merapi mengalami erupsi pada bulan Oktober lalu. Pasalnya, material berupa pasir dan batu yang berada di sekitar puncak akan longsor terkena hujan.

Hal inilah yang juga berlaku bagi warga di Dukuh Bangunsari, Dukuh Bakalan dan Sumber, Desa Klakah ini. Setelah jembatan penghubung desanya yang melintas di atas Kali Juweh, terputus akibat banjir lahar dingin, praktis para warga harus berupaya untuk mencari jalan agar bisa beraktivitas seperti biasa.
Seperti yang dialami Sarini, 50. Bagi perempuan warga Dukuh Bangunsari ini, terputusnya jembatan Bangunsari yang menghubungkan dengan Desa Jrakah, Selo, dirinya harus memutar melewati jalan setapak yang sangat terjal untuk menuju bibir Kali Juweh.

“Jalan setapak itu memang satu-satunya akses jalan warga untuk ke Desa Jrakah dan sebaliknya. Kalau melewati jalan biasanya sudah tidak bisa, karena jalan beraspal di sekitar jembatan juga sudah ambrol karena terkikis lahar dingin,” ujarnya saat ditemui Espos, Rabu (12/1).

Menurut Sarini, setelah berada di Kali Juweh, dirinya juga harus menyeberangi arus deras Kali Juweh. Hal itu menurutnya, juga sangat berisiko, meski itu menjadi hal biasa bagi warga setempat. Pasalnya, kondisi arus deras itu tidak bisa diprediksi sebelumnya.

Sarini menyebut, cuaca mendung juga menjadi tanda baginya dan warga di tiga dukuh itu untuk lebih waspada. Pasalnya, kemungkinan terjadinya banjir lahar dingin sangat dimungkinkan.
Senada, warga Bangunsari lainnya, Harmi, 20, mengaku dirinya terpaksa berjalan kaki menaiki tebing melalui jalan setapak untuk menuju kediamannya.

“Hanya satu-satunya akses yang melewati tebing itu. Motor pun juga tidak bisa,” tandas dia.

Diakui Harmi, jika sudah gerimis, dirinya memilih untuk menyingkir dari aliran Kali Juweh. Hal itu dikarenakan biasanya akan terjadi banjir lahar.

Diakuinya, dengan kondisi itu, dirinya juga belum berniat mengungsi ke tempat yang lebih aman, meski wilayahnya terancam tertutup akses jalan, akibat terputusnya jembatan Bangunsari.
Dirinya hanya berharap pemerintah bisa segera memperbaiki jembatan itu, karena menjadi sarana vital penghubung warga yang akan beraktivitas.

fid

LOWONGAN PEKERJAAN
QUALITY CONTROL & ADMIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…