Rabu, 12 Januari 2011 11:07 WIB Hukum Share :

Ayah perkosa anak, keluarga tuding MO hamil oleh kekasihnya

Jakarta–Kabar kehamilan MO ,13, telah menyebar luas di tengah warga sekitar Kampung Pule, Kelurahan Cijantung Kecamatan Pasar Rebo. Keluarga membantah kalau janin yang dikandung MO hasil hubungan dengan ayah kandungnya MU ,33.

Sang ibu, justru menuduh benih yang ada di perut MO adalah hasil berhubungan badan dengan Toni Heriadi ,27, kekasih MO.

“Mungkin karena enggak terima disebutin yang sedang dikandung adalah benih ayahnya, ibunya sempat nuduh saya yang berbuat begitu,” kata Toni saat ditemui wartawan di kediamannya MO diKampung Pule, Kelurahan Cijantung Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (11/1) malam.

Mendengar tuduhan itu, Toni pun menampik tegas jika benih berusia sekitar 1,5 bulan adalah hasil berhubungan badan dengan dirinya. “Jelas bukan, saya kenal dia baru empat bulan. Nyium juga enggak, gimana bisa hamil,” kata Toni menampik tudingan.

Buruh pabrik mie instan berperawakan kurus ini mengatakan, justru dirinyalah yang mendorong MO untuk melaporkan kasus tak senonoh yang diduga dilakukan ayah kekasihnya. “Karena enggak tega lihat dia ditelantarin orangtuanya, saya minta dia lapor ke polisi,” jelas Toni.

Jika biasanya Toni sepekan sekali mengunjungi kediaman MO, kini dia harus wara-wiri setiap malam selepas kerja untuk mengantar makanan ke rumah kekasihnya itu. “Kalau saya enggak ke sini dia enggak akan makan, saya cuma antar makanan saja buat besok sampai malamnya,” ujar Toni.

Disinggung mengenai sikap Toni setelah mengetahui kekasihnya tersebut mengandung benih yang bukan hasil perbuatannya, dia mengaku siap untuk mempertanggungjawabkan.

“Saya tetap tanggungjawab. Tapi saya bingung kalau saya nikahin usia dia belum dewasa, mungkin nanti saja kalau anaknya sudah lahir saya nikahin. Sekarang kasih dorongan dulu saja, kasian dia masih trauma,” ujarnya.

Sekretaris RW tempat MO tinggal, Herwandi, mengaku tidak keberatan dengan kunjungan Tony setiap malam. Menurutnya, kedatangan Toni membantu MO yang kini tinggal sendiri di rumahnya.

“Dia cuma antar makan saja, lagi pula hansip patroli setiap jam buat awasi rumah dia (MO),” kata Herwandi saat ditemui di gedung sekretariat RW.

MO mengaku diperlakukan tak senonoh oleh ayahnya kali pertama ketika dirinya menginjak kelas 4 SD. Kejadian berlanjut saat dia berada di kelas 6 SD di pertengahan 2010.

Kejadian kedua itu dilakukan ayahnya ketika pulang kerja dalam keadaan mabuk. Meski sempat terpergok sang istri namun tidak reaksi apapun dari orangtuanya tersebut.

Tak tahan menanggung beban derita seorang diri, MO pun menceritakan kepada salah seorang teman di sekolahnya yang juga bertempat tinggal tak jauh dari kediaman MO, di Kampung Pule, Kelurahan Cijantung Kecamatan Pasar Rebo.

Tanpa disadari, ceritapun menyebar dan sampai ke telinga keluarga MO. Karena malu, kedua orangtua MO meninggalkannya seorang diri. Merasa ditelantarkan, MO melaporkan perbuatan ayahnya tersebut ke kepolisian setempat.

dtc/tiw

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…