ATAP AMBROL—Ruang kelas di SDN 3Tanggungharjo, Kecamatan Tanggungharjo, Grobogan atapnya ambrol sehingga tidak bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar, Rabu (12/1). Siswa kelas I, II dan III sekelohar tersebut terpaksa belajar di ruang perpustakaan.
Rabu, 12 Januari 2011 22:38 WIB Tak Berkategori Share :

Atap kelas ambrol, siswa SDN 3 Tanggungharjo belajar di perpustakaan

ATAP AMBROL—Ruang kelas di SDN 3Tanggungharjo, Kecamatan Tanggungharjo, Grobogan atapnya ambrol sehingga tidak bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar, Rabu (12/1). Siswa kelas I, II dan III sekelohar tersebut terpaksa belajar di ruang perpustakaan.

Grobogan (Espos)--Siswa kelas I, II dan III SDN 3 tanggungharjo, Kecamatan Tanggungharjo terpaksa belajar di ruang perpustakaan sekolah, karena atap ruang kelas mereka ambrol. Tembok dan lantai gedung juga mengelupas.

“Terpaksa kegiatan belajar mengajar kelas I, II dan III kita pindahkan ke ruang perpustakaan. Mereka terpaksa harus belajar di ruang yang sempit,” ujar Kepala SDN 3 Tanggungharjo, Rohadi Sudarwo SPd kepada wartawan, Rabu (12/1).

Menurut Rohadi, jumlah murid tiga kelas yang diungsikan ke perpustakaan tersebut ada 75 siswa. Kelas I sebanyak  27 siswa, kelas II 23 siswa dan kelas III sebanyak 25 siswa. “Siswa kelas I dan II belajarnya bergantian mengingat ruang perpustakaan yang sempit,” papar Rohadi.

Menurut Rohadi, ambrolnya atap ruang kelas tersebut bukan karena diterjang angin rebut, namun karena usia bangunan sekolah tersebut yang sudah tua. Mengingat bangunan SDN 3 Tanggungharjo tersebut dibangun tahun 1972 dan sekolah yang terletak di belakang Kantor UPTD Pendidikan Tanggungharjo, baru sekali direhab di tahun 1982.

“Kerusakan ini sebenarnya sudah kita sampaikan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan dengan mengajukan proposan, tetapi tidak tahu kapan akan diperbaiki,” jelasnya.

Terpisah Kepala Dinas Pendidikan Grobogan, H Sugiyanto SH MM mengakui di kabupaten setempat, memang banyak gedung SD yang kondisinya rusak dan memprihatinkan.

“Data yang kita miliki ada sekitar 300 gedung atau 35 persen dari 849 SD yang ada kondisinya rusak akibat dimakan usia. Rata-rata bangunan SD di Grobogan merupakan hasil program Inpres tahun 1980-an,” jelasnya.

Menurut Sugiyanto, perbaikan gedung SD yang rusak membutuhkan dana yang cukup besar. Sementara dana yang ada terbatas sehingga perbaikannya harus dilakukan bertahap.

“Untuk tahun 2010 memang tidak ada perbaikan fisik gedung SD, karena dana alokasi khusus (DAK) senilai Rp 39 miliar tahun itu penggunaanya hanya untuk peningkatan mutu pendidikan. Kami berusaha agar DAK tahun 2011 ini bisa untuk memperbaiki gedung SD yang rusak,” tandas Sugiyanto.

rif

lowongan pekerjaan
PT.ARUTAMA BUMI STILINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…