Selasa, 11 Januari 2011 02:45 WIB Klaten Share :

Rendah, penyerapan pupuk di Klaten

Klaten (Espos)–Penyerapan pupuk bersubsidi di wilayah Klaten selama tahun 2010 tergolong rendah. Catatan dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Klaten menyebutkan bahwa penyerapan pupuk bersubsidi bagi para petani kecil di Klaten hanya 60%.

Humas HKTI Klaten, Djoko Sardjono menegaskan, rendahnya penyerapan pupuk bersubsidi tersebut harus menjadi perhatian serius Pemkab. Pasalnya, jika hal tersebut dibiarkan berlarut-larut maka akan rentan terjadinya penggelembungan data kebutuhan pupuk bersibsidi. “Pemkab harus segera tanggap. Kaji ulang berapa sebenarnya kebutuhan pupuk bersubsidi di Klaten,” kata dia ketika ditemui Espos di ruang kerjanya, Senin (10/1).

Menurut catatan HKTI Klaten, stok pupuk bersubsidi di Klaten tahun 2010 adalah 35.500 ton. Dari jumlah tersebut, masih tersisa 40% lantaran tak terserap. “Sisa pupuk sebanyak itu akan dikemanakan? Kalau direalokasi, kemana?” tanyanya.

Saat ini, jumlah kelompok tani di Klaten mencapai 1.008 kelompok tani. Dengan data yang tercatat tersebut, menurut Djoko, mestinya ada pendataan kebutuhan pupuk yang sesungguhnya demi menjaga alokasi pupuk bersubsidi kepada para petani. “Kasihan, kan kalau sampai ada penyaluran pupuk yang tak merata. Sementara, di sisi lain masih banyak pupuk yang belum terserap,” tanyanya.

Menurut pengamatan sementara Djoko, ada sejulah persoalan yang membuat rendahnya penyerapan pupuk di Klaten. Pertama ialah soal serangan hama wereng. Kedua, faktor anomali cuaca. Dan ketiga ialah mulai banyaknya petani yang beralih ke pupuk organik. “Ini dugaan awal saya sementara. Namun, yang jelas, mesti ada pendataan yang lebih akurat lagi dari Pemkab,” paparnya.

Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian Klaten, Wahyu Prasetya membenarkan atas rendahnya penyerapan pupuk bersubsidi di Klaten tahun 2010.Terkait itulah, tahun 2011 ini pihaknya hanya mengajukan permohonan pupuk bersubsidi sebanyak 33.000 ton. Angka tersebut, diprediksi juga masih bakal tersisa lantaran masih belum pulihnya kondisi pertanian di Klaten. “Sisa tahun lalu, terpaksa direalokasi ke daerah lainnya di kawasan Soloraya,” terangnya.

Menurutnya, penyerapan pupuk bersubsidi ideal di Klaten sebenarnya hanya berkisar 28.000 ton. Angka itu mengacu pada tahun lalu di mana stok 30.000 ton masih tersisa. “Harapan kami, dalam bulan ini segera ada kepastian stok pupuk di Klaten,” terangnya.

asa

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…