ANGKUT PIPA RUSAK—Dua orang warga Desa Klakah, Selo mengangkut pipa rusak yang diterjang banjir lahar dingin di Kali Apu, Selasa (11/1). (FOTO: Espos/Ahmad Mufid Aryono)
Selasa, 11 Januari 2011 20:08 WIB Boyolali Share :

Pipa air diterjang lahar dingin, ribuan warga terancam krisis air bersih

ANGKUT PIPA RUSAK—Dua orang warga Desa Klakah, Selo mengangkut pipa rusak yang diterjang banjir lahar dingin di Kali Apu, Selasa (11/1). (FOTO: Espos/Ahmad Mufid Aryono)

Boyolali (Espos)--Ribuan warga di lereng Merapi terancam krisis air bersih, menyusul jaringan pipa air terputus akibat diterjang banjir lahar dingin di sepanjang Kali Apu. Ribuan warga itu berada di tiga desa yakni Desa Klakah, Jrakah dan Tlogolele.

Selain pipa rusak, tertutupnya sumber mata air yang ada di Kali Apu juga tertutup material pasir dan batu. Akibatnya suplai air bagi warga juga terhenti.

Salah seorang warga Dukuh Klakah Ngisor, Desa Klakah, Kecamatan Selo, Istianto mengatakan jaringan pipa rusak sejak awal Desember lalu. Saat itu, banjir lahar dingin menutup sumber mata air dan beberapa jaringan pipa warga yang mengambil dari sumber mata air di Kali Apu.

“Warga belum sempat memperbaiki, kemudian kembali terjadi banjir lahar dingin dan saat ini sumber sudah tertutup material,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (11/1).

Rusaknya jaringan pipa itu, dirinya bersama sejumlah warga mencari sisa-sisa pipa paralon masih bisa digunakan.
Selain itu, warga juga berusaha mencari sumber air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Tetapi kami tidak mencari sumber air di lereng Merapi, terutama di kali yang menjadi aliran lahar Merapi. Karena saat ini seluruh mata air sudah tertutup material,” tandas dia.

Senada, warga Desa Klakah, Darto Ramidi mengatakan dengan kondisi hilangnya sumber mata air itu, warga terpaksa mencari sumber air di lereng Merbabu. Pihaknya kini telah mengambil air dari  mata air di Ngagrong, Sawangan Magelang.

Darto menjelaskan untuk mengalirkan air hingga ke bak-bak penampungan itu, pihaknya berpatungan dengan warga lain untuk membeli pipa paralon baru, maupun menggunakan pipa-pipa bekas yang masih bisa dimanfaatkan.

“Jarak dari sumber Ngagrong hingga Klakah bisa lebih dari lima km. Ini berbeda kalau mengambil sumber dari Kali Apu yang berjarak kurang dari dua km,” tambah dia.

Menurut Darto, saat mengambil air di Ngagrong, pihaknya membutuhkan sebanyak 950 pipa paralon. Jumlah itu, jelasnya, hanya dibisa digunakan hingga ke daerah Windu, Magelang.
“Kalau ditarik dari Windu ke Klakah lebih dari 1.000 batang pipa paralon, karena jarak Windu hingga Klakah itu sekitar satu km,” papar dia.

Meski sudah mengalir, jelas Darto, debit air yang mengalir tidak begitu deras. Meski demikian, pihaknya berharap ada bantuan pipa untuk mengalirkan dari sumber air yang ada.

fid

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…