Selasa, 11 Januari 2011 19:50 WIB News Share :

“JLS hanya menguntungkan pemilik kendaraan bermotor..”

Salatiga (Espos)--Jalan Lingkar Selatan (JLS) Salatiga ruas Blotongan-Pulutan, Kecamatan Sidorejo, yang baru selesai dikerjakan, belakangan menjadi tempat favorit bagi warga sekitar untuk dikunjungi. Mereka datang mulai sekedar untuk jogging, bersepeda, hingga adu balap burung merpati.

Latar belakang pemandangan Gunung Merbabu dan Gunung Ungaran yang indah, ditambah udara relatif lebih segar karena dihimpit persawahan, menjadi daya tarik yang sulit ditolak. Apalagi JLS itu belum dioperasikan, sehingga belum banyak kendaraan bermotor yang melintas.

Awalnya belasan, kini puluhan hingga ratusan orang datang ke JLS, khususnya di sore hari. Beberapa warga dari kalangan bawah melihat ada manfaat yang bisa mereka ambil dari keberadaan JLS tersebut.

Berawal dari adanya satu dua warung makan dengan bangunan seadanya terbuat dari bambu beratapkan terpal biru berdiri di sepadan jalan. Warung ini cukup ramai dikunjungi oleh warga yang melintas di JLS. Kondisi ini mengundang rasa iri warga lain yang juga ingin mendapat keuntungan dari ceruk bernama JLS ini.

Belasan hingga puluhan orang pun kemudian ramai-ramai mematok sepadan jalan yang dulunya bekas persawahan itu. Patok itu sebagai klaim kepemilikan kendati tanah itu bukan milik warga. Di atas tanah berpatok itu kemudian dipasang bambu-bambu yang membentuk kuda-kuda sebuah warung. Bisa dipastikan, pembuatnya ingin membuka warung di sepadan yang seharusnya bebas dari PKL (pedagang kaki lima).

Namun, gerak-gerik dan niat warga ini keburu tercium oleh aparat Satpol PP Salatiga. Bersama sejumlah instansi Pemkot lain, aparat Satpol PP ini langsung menggelar penertiban lapak-lapak ilegal tersebut, Selasa (11/1).

“Ini langkah antisipasi agar di kawasan sepadan jalan ini tidak tumbuh subur PKL. Sementara ini sifatnya persuasif. Kami mengajak lurah dan camat untuk mengimbau warganya agar tidak membuat lapak di sepadan jalan,” papar Kepala Kantor Satpol PP Kota Salatiga, Bustanul Arifin SH, ditemui di sela-sela penertiban. Menurutnya jarak 11 meter dari as jalan dilarang berdiri bangunan apapun.

Ngatemi, 50, warga Dusun Kenteng, Kelurahan Pulutan, Kecamatan Sidorejo, hanya bisa tersenyum kecut saat petugas Satpol PP memperingatinya untuk  tidak lagi berjualan di sepadan JLS. Penjual sate ayam itu pun hanya bisa menjawab ya, kendati di hati enggan mengikuti perintah itu.

“<I>Lha<I> mau bagaimana lagi. Hanya seperti ini yang bisa kami manfaatkan dari keberadaan JLS. Kalau berjualan ini saja dilarang, berarti hanya orang yang punya mobil saja yang mengambil keuntungan dari keberadaan JLS ini,” keluh wanita yang tak memiliki pekerjaan jika tak berjualan ini.

Hal sama diutarakan Karomah, 50, tetangga Ngatemi. Warung yang belum selesai ia buat terpaksa harus ia bongkar lantaran mendapat larangan. “Jualan disini (JLS) lebih ramai, dibandingkan lokasi yang biasa saya tempati. Kalau dilarang kasihan orang-orang seperti saya,” ujar penjual gandos ini. Sejauh ini Pemkot hanya bisa mengeluarkan larangan tanpa memberikan solusi.<B>kha<B>


kha

lowongan pekerjaan
ERA PLATINUM SOLO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


Iklan Cespleng
  • MOBIL DIJUAL JL CPT Taft GT4x4’94,Body Kaleng,Ori,Asli KLATEN:081391294151 (A00593092017) “…
  • LOWONGAN CARI PTIMER 2-4 Jam/Hari Sbg Konsltn&SPV Bid.Kshtn All Bckgrnd Smua Jursn.Hub:0811.26…
  • RUMAH DIJUAL Jual TNH&BGN HM 200m2,LD:8m,Strategis,Makamhaji,H:08179455608 (A00280092017) RMH LT13…
Lihat Semua Iklan baris!

Kolom

GAGASAN
Peringkat dan Mutu Perguruan Tinggi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/9/2017). Esai ini karya Johan Bhimo Sukoco, dosen Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Slamet Riyadi, Solo. Alamat e-mail penulis adalah johanbhimo@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO — Kementerian Riset Teknologi dan…