Senin, 10 Januari 2011 03:57 WIB Karanganyar Share :

Pintu air Waduk Lalung rusak

Karanganyar (Espos)–Pintu air di Waduk Lalung, Desa Lalung, Karanganyar, rusak sejak pertengahan 2010 lalu. Hingga kini, pintu air tersebut masih belum diperbaiki. Akibatnya, air yang keluar dari waduk tidak bisa dikendalikan. Padahal air tersebut mengaliri sejumlah areal persawahan di Karanganyar seluas 1.500 hektare.

Menurut petugas jaga pintu air Waduk Lalung, Narto, jika pintu tersebut tidak segera diperbaiki, maka akan mengurangi debit air di waduk. “Seharusnya Januari ini pintu air sudah ditutup. Kalau tidak, nanti pada musim tanam (MT) kedua, tidak ada air,” kata Narto saat ditemui Espos di rumahnya, Senin (10/1).

Air dari waduk tersebut antara lain mengalir ke sejumlah desa di dua kecamatan. Desa tesebut yakni Jati, Jaten, Dagen, Papahan dan Buran di Kecamatan Jaten. Sedangkan beberapa desa di Kecamatan Mojolaban yakni Desa Suruh Kalang, Kragilan, Klumprit, Demakan, Gondang, Joho, Triagan dan Sapen.

Menurut Narto, pada MT I air yang mengalir ke sejumlah area persawahan itu masih bisa ditanggulangi dengan mengalirkan air dari bendungan Gembong Samin di Desa Trani, Mojolaban. Namun memasuki MT II dan III, tidak cukup hanya mengandalkan satu bendungan. Karena itu, lanjut dia, sebelum memasuki MT II dan III, pintu air waduk harus ditutup untuk menampung air. Jika tak segera diperbaiki, yang akan merasakan akibatnya adalah sejumlah petani sebab mereka banyak yang menanam padi dibandingkan dengan palawija.

Narto sendiri kurang tahu penyebab kerusakan dam itu. Pintu air selebar 1 m x 1 m di Waduk Lalung itu memang sepenuhnya bisa dibuka. Tapi saat ditutup, pintu airnya tidak bisa sepenuhnya menutup. “Jadi aliran airnya bisa diperbesar, tapi tidak bisa dikecilkan,” jelasnya.

Kemungkinan, sambungnya, persis di bawah pintu air itu terganjal batu besar. Atau kemungkinan kedua, yakni kedua sisi pintu air itu  tidak lancar lagi sehingga tidak bisa ditutup secara penuh. Narto juga sudah melaporkan kerusakan itu ke Balai Bengawan di Kartosuro. Katanya, perbaikan akan dilakukan ketika air di waduk sudah mulai menyusut.

Salah satu petani di Desa Lalung, Wagimin mengakui, besar tidaknya penutupan pintu air juga berdampak pada tanaman padi. Terutama padi petani di sebelah barat waduk. “Kalau musim kemarau, kami mengalirkan air melalui pipa kecil dari waduk,” katanya.

Waduk Lalung sendiri bisa menampung lebih dari lima juta kubik air saat elevasi puncak. Pada hari biasa, waduk tersebut mengalirkan air antara 400-600 kubik air ke beberapa areal persawahan.

fas

LOWONGAN PEKERJAAN
PT.MICROVISION INDONESIA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…