Senin, 10 Januari 2011 15:08 WIB News Share :

Massa kontra Bupati Gowa serang polisi dengan tombak

Gowa--Puluhan massa dari Aliansi Rakyat Gowa Bersatu secara bersamaan menyerang polisi dengan tombak pusaka dan bambu runcing. Serangan ini dilakukan saat kerumunan mereka hendak dibubarkan oleh aparat.

Pantauan, Senin (10/1) puluhan massa yang kontra bupati Gowa, Ichsan Yasin Limpo ini, berniat untuk kembali mendekati kantor bupati, setelah sebelumnya berkerumun di samping Masjid Syeikh Yusuf. Namun niat mereka dihadang oleh aparat kepolisian yang sudah dilengkapi helm pelindung dan tameng.

Menolak dibubarkan, belasan orang menyerang polisi dengan tombak pusaka kerajaan Gowa yang mereka bawa. Ada juga yang menyerang dengan bambu runcing dan batu. Namun untungnya, pertahanan tameng polisi berlapis dua, sehingga tidak ada polisi yang terluka.

Aparat lalu mengeluarkan tembakan gas airmata. Suara tembakan membuat massa kaget, dan lari kocar-kacir. Mereka lalu diburu dan dipukul mundur oleh petugas hingga Jl Pendidikan.

Sementara itu, Polres Gowa mengamankan mobil pick up milik massa, karena ditinggal oleh pengemudinya, saat mesin mobil masih menyala. Pengemudi turut lari saat polisi mengeluarkan tembakan gas airmata.

Sebelumnya, terjadi perang batu antara massa kontra bupati Gowa dengan pegawai kantor bupati yang pro bupati.

Massa Aliansi Rakyat Gowa Bersatu berunjuk rasa meminta agar bupati dicopot akibat kasus ijazah palsu. Unjuk rasa ini masih kelanjutan sengketa pilkada antara kandidat Andi Maddusila melawan Ichsan Yasin Limpo yang merupakan adik Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo. Andi Maddusila kalah dalam Pilkada itu.

tiw

LOWONGAN PEKERJAAN
PT.MICROVISION INDONESIA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…