Senin, 10 Januari 2011 22:34 WIB Karanganyar Share :

Koperasi Sunar Budi Jamilah Sejahtera fiktif

Karanganyar (Espos)–Koperasi Syariah Sunar Budi Jamilah Sejahtera yang diduga telah menyelewengkan dana bantuan dari Kementrian Negara Perumahan Rakyat (Kemenpera) tahun 2007-2008 silam senilai Rp 4,04 miliar lebih ternyata fiktif.

Hal ini diketahui setelah tim penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Karanganyar memeriksa akta kenotariatan pendirian koperasi tersebut. Salah satu jaksa penyidik Faizal Banu didampingi Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Bambang Tedjo Manikmoyo ketika dijumpai di ruang kerjanya, Senin (10/1) mengatakan tim penyidik secara maraton terus ngebut pengusutan kasus dugaan korupsi bantuan rehab dan pembangunan rumah bagi masyarakat tidak mampu dari Kemenpera.  Sedikitnya 300 orang dari total 450 penerima bantuan tersebut telah dimintai keterangannya.

Selain meminta keterangan para penerima bantuan, Faizal menambahkan, pihaknya juga  meminta keterangan notaris tentang pendirian Koperasi Syariah Sunar Budi Jamilah Sejahtera. “Dari keterangan notaris itu terungkap bahwa Koperasi Syariah Sunar Budi Jamilah tidak tercatat dalam akta notaris, yang artinya koperasi itu fiktif,” ujarnya.

Faizal menduga selama ini pengucuran bantuan dari Kemenpera tidak dilakukan dengan melakukan pengecekan secara langsung kondisi di lapangan. Termasuk mengecek secara langsung keabsahan dokumen dari masing-masing pemohon bantuan tersebut melainkan Kemenpera hanya melakukan verifikasi secara formal. Sehingga dengan leluasa bantuan bisa dicairkan kepada Koperasi Sunar Budi Jalimah Sejahtera. “Tapi kami tidak berhenti di situ. Sampai sekarang masih terus melakukan penyidikan secara mendalam. Apakah ada keterlibatan orang dalam atau bagaimana,” tegasnya.

Namun demikian, Faizal menuturkan berdasarkan hasil penyidikan sementara, dana bantuan Kemenpera disalahgunakan untuk kepentingan pribadi Ketua Koperasi Syariah Sunar Budi Jamilah Sejahtera, yakni Dra Muzamil Sulasiah yang kini tengah mendekam di tahanan Rutan Solo. Tim penyidik terus mengembangkan pengusutan kasus dugaan penyelewengan yang modusnya hampir sama dengan kasus dugaan korupsi Griya Lawu Asri (GLA) melibatkan suami Bupati Karanganyar Rina Iriani, Tony Haryono.

“Kami akan melakukan penelusuran aset-aset milik Muzamil. Karena ada dugaan bahwa dana bantuan Kemenpera digunakan untuk membeli aset berupa tanah dan bangunan. Uang negara inilah yang akan kami selamatkan,” jelasnya.

Dari hasil penyidikan, Faizal menerangkan, tersangka Muzamil Sulasiah menjanjikan akan memberikan bantuan rehab rumah yang merupakan bantuan dari Kemenpera senilai Rp 7 juta per unit rumah. Bantuan yang disalurkan bervariasi mulai dari berwujud uang tunai hingga barang berupa material bangunan. Bahkan ada yang hanya berupa buku tabungan.

Namun kenyataan di lapangan bantuan yang diberikan kepada warga nilainya mulai dari Rp 3 juta hingga Rp 6 juta. Pihaknya juga mencium adanya dugaan nama-nama penerima yang fiktif. “Nama itu ada dan tertera penerima bantuan tapi ternyata tidak menerima,” katanya.

isw

LOWONGAN PEKERJAAN
FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…