Senin, 10 Januari 2011 17:00 WIB Hukum Share :

Dua WN Iran telan sabu senilai Rp 1,5 M

Jakarta–Yaser ,29, dan Ghader ,34, punya cara nekat untuk menyelundupkan 125 butir sabu ke Indonesia, yaitu dengan menelannya. Petugas Bea dan Cukai Bandara Internasional Soekarno-Hatta juga punya cara ‘nekat ‘untuk membekuk dua warga negara Iran itu, yaitu memaksa mereka buang air besar.

“Ini merupakan kasus pertama di awal tahun 2011 dan modus yang paling sulit di tahun 2010 tidak ditemukan. Modus yang sama ditemukan pada akhir 2009 dengan pelaku WN Iran juga,” ujar Kepala Seksi Penindakan dan Penyelidikan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Bandara Soekarno-Hatta, Gatot Sugeng Wibowo, Senin (10/1).

Kepada wartawan yang menemuinya di kantor Bea dan Cukai Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, dia sebutkan bahwa kedua WN Iran itu tiba pada Jumat (7/1) lalu. Mereka menumpang pesawat Malaysia Airlines (MH-723) Kuala Lumpur-Jakarta yang mendarat pada sekitar pukul 18.00 WIB.

Setelah seluruh butir sabu berhasil dikeluarkan, diketahui bahwa Yaser A  menelan 64 butir kapsul dngan berat brutto sekira 552 gram dan  Ghader menelan 61 butir kapsul dngan berat 451 gram. Maka  totalnya ada 125 butir kapsul dengan berat 1.003 gram sabu dengan nilai tidak kurang dari Rp 1,5 miliar.

Kepada petugas, Ghader yang mengaku sebagai petani dan Yaser yang mengaku sebagai buruh bangunan. Untuk pekerjaan menelan lalu menyelundupkan obat terlarang itu, mereka mendapatkan upah senilai USD 2 ribu.

“Tampilan mereka dibuat seperti aktor, juga dibekali tiket plus uang saku sebesar U$D 400 , bahkan tiket menginap di sebuah hotel di Jakarta,” papar Gatot.

dtc/tiw

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…