Minggu, 9 Januari 2011 22:50 WIB Klaten Share :

Pemkab sipakan Rp 1 miliar untuk normalisasi Kaliworo

Klaten (Espos)–Alokasi anggaran senilai Rp 1 miliar disiapkan Pemkab Klaten untuk menormalisasi Kaliworo di lereng Gunung Merapi pada tahun 2011 ini. Langkah normalisasi diambil untuk mengembalikan kondisi Kaliworo yang saat ini mengalami penyempitan supaya pulih seperti sedia kala.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda Klaten), Bambang Sigit Sinugroho kepada wartawan di Klaten, pekan lalu, mengatakan, normalisasi direncanakan mulai Sukorini, Kecamatan Manisrenggo ke bawah yang dinilai sudah cukup parah terjadi penyempitan dan pendangkalan. “Begitu APBD digedok, normalisasi segera dilaksanakan. Tanah yang menumpuk di dasar Kaliworo dikeruk dengan alat berat.”

Diungkapkan olehnya, untuk satu kilometer alur Kaliworo diperkirakan membutuhkan dana Rp 100 juta. Dengan anggaran Rp 1 miliar, berarti bisa menormalisasi Kaliworo sepanjang 10 kilometer. Menurut Bambang, penyempitan alur Kaliworo membahayakan karena jika terjadi aliran lahar dingin bisa meluber kemana-mana. Dia menambahkan, normalisasi diikuti penataan tanggul supaya jelas lebar Kaliworo yang sesungguhnya.

Ditanya tentang adanya lahan di alur Kaliworo yang ditanami padi serta tanaman produktif lainnya oleh warga setempat, Bambang mengatakan akan diadakan sosialisasi terlebih dahulu supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Dia menjelaskan, upaya menormalisasi Kaliworo semata-mata untuk meminimalisasi ancaman luberan banjir lahar dingin sebagaimana terjadi akhir-akhir ini di wilayah lereng Merapi lainnya.

Disinggung mengenai kerusakan dam penahan lahar dingin akibat banjir lahar di Kaliworo sampai ke Sukorini baru-baru ini, Bambang mengatakan sejauh ini belum terdeteksi kerusakan parah. Ia mengakui ada bangunan dam yang retak-retak, tapi dinilai masih aman. Menurut dia, konstruksi dam penahan lahar dingin atau sabo dulu dibangun melalui Proyek Merapi (Promer) dari Pemerintah Pusat. “Fungsinya menahan lahar dingin, kalau penuh dikeruk.”

Pada bagian lain, Camat Manisrenggo, Gandung Wahyudi, mengungkapkan, di wilayahnya terdapat empat bangunan penahan lahar dingin, yakni di Sukorini, Kecemen dan dua lainnya di alur sungai menuju jembatan Borangan. Menurutnya, dam utama penahan banjir dalam kondisi memrihatinkan. “Sementara diupayakan menambal retakan kaki dam dengan potongan kayu atau batang pohon pisang,” jelasnya.

rei

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…