Minggu, 9 Januari 2011 17:38 WIB News Share :

Kemenhub
Masyarakat masih keberatan tarif KA ekonomi naik

Jakarta –– Dengan alasan memperhatikan kondisi sosial ekonomi masyarakat, pemerintah kembali menunda kenaikan tarif kereta api kelas ekonomi. Dari survei yang dilakukan Kementerian Perhubungan pada pemberlakuan pertama tarif baru kemarin, masyarakat masih keberatan dengan kenaikan.

“Sebelumnya saya sudah perintahkan untuk mengadakan survei, baik survei ability to pay dan willingness to pay. Hasil survei tersebut sebenarnya menunjukkan pengguna kereta api tidak keberatan, makanya kemarin kita lakukan pemberlakukan tarif baru. Tetapi dari evaluasi kemarin, ternyata sebagian masyarakat banyak yang masih keberatan,” kata Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Tundjung Inderawan.

Hal itu disampaikan Tundjung dalam jumpa wartawan di kantor Kemenhub, Jl Medan Merdeka Barat, Minggu (9/1).

Dalam rilis yang didapat wartawan, Kemenhub menyebut alasan penundaan kenaikan tarif juga sebagai tindak lanjut arahan Presiden SBY agar pelayanan KA tidak membebani masyarakat. Dengan demikian penundaan kenaikan tarif ini sudah ketiga kalinya, setelah Juli 2010 dan September 2010.

Ditanya sampai kapan penundaan berlaku, Tundjung tidak bisa memastikannya. “Nanti akan kita lihat perkembangannya, masih perlu waktu. Saya tidak bisa menentukan. Tapi dalam waktu dekat akan kembali kita lakukan perhitungan,” kata Tundjung.

Seperti diketahui, tarif kereta api kelas ekonomi yang mulai Sabtu (8/1) kemarin naik berkisar antara Rp 500 hingga Rp 8.500 dibatalkan. Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan hal itu bukan pembatalan, tapi penundaan.

dtc/tya

LOWONGAN PEKERJAAN
PT.Japantech Indojaya, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…