Sabtu, 8 Januari 2011 01:53 WIB Sragen Share :

Jaringan listrik Desa Nganti amburadul, warga minta PLN bersikap

Sragen (Espos)--Jaringan listrik di kawasan Desa Nganti, Kecamatan Gemolong dinilai amburadul. Jaringan terpasang tidak memenuhi kebutuhan seluruh warga, sehingga warga terpaksa berbagi dengan banyak tetangganya demi tetap dapat menikmati listrik.

Akibat jaringan yang tidak mencukupi itu, menurut Kepala Desa (Kades) Nganti, Ngaidi, aliran listrik yang masuk ke rumah warga memiliki voltase yang lebih rendah dibanding tegangan normal, 220 Volt. Dampaknya, selain nyala lampu dan alat elektronik tidak maksimal, juga berakibat merusak alat-alat elektronik. “Terutama kalau malam hari, kelihatan sekali. Nyala lampu tidak terang. Untuk alat-alat elektronik warga harus menunggu 10-15 menit sebelum dapat mengunakan alat secara normal,” jelas Ngaidi, kepada Espos, Jumat (7/1).

Terkait kondisi jaringan listrik di desanya, Ngaidi mengaku pernah menyampaikan keluhan secara lesan ke PLN. Pihaknya berharap PLN mengoreksi pengaturan jaringan di Desa Nganti. Saat ini, dia menjelaskan, satu jaringan disebarkan sampai delapan hingga 10 sambungan rumah (SR).

Kondisi tersebut, menurutnya, selain membuat pasokan listrik ke rumah warga tidak maksimal juga mengkhawatirkan dari segi keamanan. Apalagi, kondisi jaringan semacam itu terjadi hampir di empat dukuh di Desa Nganti, yang dihuni sekitar 200 kepala keluarga (KK). “Kami sangat berharap PLN segera datang untuk memeriksa. Karena kondisinya sudah sangat amburadul. Perlu dilakukan pembenahan. Kami raa perlu, PLN menambah jaringan baru di desa kami,” imbuh dia.

Sementara, Kepala UPJ PLN Sumberlawang, Agus Budiasto, menerangkan perbaikan jaringan listrik memungkinkan dilakukan sepanjang PLN melihat hal itu perlu. Untuk itu, terkait adanya keluhan dari warga Desa Nganti, Agus berjanji pekan depan akan menerjunkan timnya untuk mengecek kondisi di lapangan.

Jika memang jaringan benar-benar amburadul, pihaknya segera akan melakukan perbaikan. Lebih jauh, jika ditemukan kenyataan bahwa jaringan yang tersedia tidak mencukupi, masyarakat, kata dia, bisa mengajukan permohonan menambah jaringan.

“Sementara kami harus cek dulu ke lapangan. Kalau memang jaringannya kacau, segera kami perbaiki. Jika memang perlu tambahan jaringan, itu juga tida masalah, tinggal mengikuti prosedurnya. Saya perkirakan pekan depan, kami sudah bisa ke lapangan,” urai Agus.

Mengenai ketentuan penataan jaringan, dia menerangkan, setiap satu jaringan memang idealnya hanya disambungkan ke lima SR. Namun, untuk kawasan pedesaan yang jarak antarrumah cukup jauh, bisa diberlakukan toleransi sampai tujuh SR. Kendati demikian, Agus menegaskan, penataan jaringan tersebut sangat bergantung kondisi di lapangan. Karenanya, dia menandaskan penataan baru bisa dipastikan setelah mengecek ke lapangan.

tsa

LOWONGAN PEKERJAAN
PT.NSC FINANCE, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…