Jumat, 7 Januari 2011 00:49 WIB Pendidikan Share :

Desa Brangkal kekurangan sekolah TK

Sragen (Espos)–Masyarakat Desa Brangkal kelurangan sekolah di tingkat sebelum SD alias TK. Di desa itu kini hanya ada satu TK yang jumlah siswanya terbatas lantaran belum memiliki gedung sendiri.

Belasan siswa TK Wijaya Kusuma tersebut terpaksa menumpang di SD Negeri (N) 1 Brangkal. Terkait kondisi tersebut, masyarakat desa setempat kini mengajukan proposal pembangunan gedung TK tersebut melalui anggaran Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) 2011. Kebutuhan pembangunan dua lokal gedung TK diperkirakan mencapai Rp 70 juta.

Sementara, persyaratan untuk pembangunan gedung belum sepenuhnya dilengkapi. Panitia masih harus melampirkan surat izin dari Badan Permusyawaratan Desa (BKD) dan Lembaga Pemberdayaan Pembangunan Masyarakat Desa (LP2MD) setempat untuk menggunakan tanah kas desa.

Ketua Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) Desa Brangkal, Suratmin, saat ditemui Espos, di kantor desa setempat, Kamis (6/1), mengungkapkan masyarakat merasa kekurangan TK, untuk itu pembangunan TK menjadi prioritas utama usulan masyarakat Brangkal dalam PNPM 2011. Selama ini, dia menerangkan hanya ada satu TK di desa setempat, yang mendidik 14 siswa. Padahal, sebenarnya terdapat lebih dari 80 anak usia TK yang membutuhkan sarana sekolah setingkat TK tersebut.

“Yang ada sangat terbatas karena statusnya masih numpang. Bagi yang mampu, mungkin bisa menyekolahkan anaknya ke Gemolong dan Kragilan. Tapi yang tidak? Mau bagaimana lagi, kondisi kami memang terbatas,” ungkap Suratmin.

Dia menambahkan, usulan pembangunan TK dengan kebutuhan dana senilai Rp 70 juta telah disampaikan melalui PNPM Kecamatan Gemolong. Saat ini, pihaknya masih harus memenuhi kelengkapan persyaratan berupa izin dari BPD dan LP2MD. Kendati demikian, Suratmin menegaskan mudah bagi pihaknya untuk memenuhi kelengkapan tersebut. Dia berharap, usulan itu dipenuhi, karena memang sangat dibutuhkan masyarakat.

Lebih jauh, gedung TK rencananya dibangun di atas tanah kas desa yang berada persis di depan Balai Desa Brangkal. Kepala Desa (Kades) Brangkal, Ondel Sumarno, menyadari kondisi kekurangan sekolah TK yang dialami masyarakat desanya. Untuk itu, pihak desa tidak segan memberikan tanah kas desa untuk dijadilan lokasi pembangunan desa. Disamping itu, pihak desa juga berkomitmen membantu dalam operasional penyelenggaraan pendidikan di TK Wijaya Kusuma tersebut.

“Kami dari desa siap membantu memberikan semacam imbalan atau honor bagi dua orang pengajarnya. Desa menyediakan tanah 3.500 meter persegi yang kami serahkan pengelolaannya kepada pengajar TK itu nantinya,” urai Ondel.

tsa

LOWONGAN PEKERJAAN
FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…