Jumat, 7 Januari 2011 12:21 WIB Klaten Share :

Anak-anak Merapi mengejar matahari (bagian II-habis)

Oleh : Aries Susanto

Suara mesin itu terdengar menderu seiring dengan jalan yang kian menanjak. Tomo Yoso, warga Balerante, Kemalang, Klaten itu kian kencang menarik gas motornya seperti tak mempedulikan keselamatan jiwanya.

Di belakangnya, istri dan kedua anaknya diapit dengan kendaraan bebeknya itu.  Begitu tiba di pelataran SDN Balerante I, ia langsung membuka kaca helmnya. “Ya beginilah setiap harinya. Harus mengantar anak dan istri sambil mencari pasir,” katanya.

Ya, mencari pasir! Pekerjaan keras penuh risiko itu bukanlah profesi sampingan Tomo Yoso. Melainkan, pekerjaan utama yang menghidupinya sejak belasan tahun silam. Pendapatannya boleh dibilang tak pasti. Namun, pengeluaran untuk kebutuhan setiap harinya dan biaya sekolah kedua anaknya itu tak boleh ditunda. “Kalau cuaca tak hujan, sehari bisa dapat Rp 40.000-Rp 50.000. Tapi, sekarang sering hujan,” keluhnya.

Sebagai penggali pasir, Tomo Yoso dan istrinya nyaris tak memiliki waktu meski sekadar berbincang dengan anak-anaknya itu. Apalagi sejak tragedi Merapi memaksanya tinggal di barak pengungsian, yang terpikir hanyalah bagaimana mencari pemasukan untuk bertahan hidup. “Kalau hanya mengurusi ternak ya tak cukup. Jadi, ya harus mencari pasir,” katanya.

Di sinilah persoalan anak-anak di pengungsian kadang luput dari perhatian. Anak-anak yang ditinggalkan orangtua itu perlahan mulai kehilangan kasih sayang orangtuanya di pengungsian. Mereka barangkali mendapatkan hiburan dari para relawan. Namun, kasih sayang orangtua yang sesungguhnya sangat dirindukan anak-anak itu terasa memudar.

“Kami sudah sering mengingatkan para orangtua agar sebelum tidur menanyai aktivitas anaknya selam seharian. Harapannya, biar ada interaksi lagi,” kata Manager Divisi Rural Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (Spekham) Solo, Maria Sucianingsih.

Mendampingi anak-anak korban Merapi memang bukan perkara remeh. Ketika anak-anak bercampur dengan ratusan, bahkan ribuan pengungsi, maka mereka akan sangat rentan tertular aneka pengaruh dan penyakit. Tempo hari lalu misalnya, wajah pegiat aktivis kemanusiaan untuk anak-anak pengungsi seperti tertampar keras ketika mengetahui anak-anak Merapi disodomi orang yang mengaku relawan di pengungsian. “Kami benar-benar merasa kecolongan,” katanya.

Bukan itu saja, perilaku kurang mendidik, kadang juga begitu mudah menular kepada anak-anak Merapi. Seperti kebiasaan merokok, memakan mi instan mentah, atau kebiasaan memanjakan diri berlebihan bersama para relawan. “Kalau makan mi mentah itu sudah menjadi menu utama di pengungsian,” celetuk Trimo, bocah pengungsian kelas II SD dengan lugunya.

Persoalan anak-anak di pengungsian memang bukan semata tanggungjawab relawan. Melainkan, tanggung jawab bersama. Sebab, anak-anak adalah selembar kertas putih yang bersih. Mereka akan menirukan apa saja yang tertangkap olehnya. Maka, sayangilah anak-anak pengungsian Merapi…

LOWONGAN PEKERJAAN
GRIYA BAMBU KUNING, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…