Merapi
Jumat, 7 Januari 2011 10:12 WIB Klaten Share :

Anak-anak Merapi mengejar matahari (bagian I)

Oleh : Aries Susanto

Hari masih pagi. Jarum jam baru bergeser pukul 06.45 WIB. Namun, anak-anak SDN Balerante I Kemalang, Klaten mulai berdatangan menembus kabut tipis yang menyelimuti lereng Merapi itu. Di seberang jalan di dekat SD itu, seorang bocah tak berseragam sekolah terpaku menyaksikan teman-teman sebayanya bermain sepakbola.

“Arif belum punya seragam sekolah ya?” tanya seorang guru SD setempat, Yamtini dengan ramah. Namun, bocah itu hanya bisa menggeleng kepala. Ia pun terdiam dengan wajah memelas.
Arif Fauziyah, demikian nama lengkap anak itu. Usianya baru 11 tahun. Sejak tiga hari lalu, siswa kelas V SD itu selalu berangkat sekolah meski tanpa seragam, tanpa sepatu, dan tanpa membawa buku.

Ia bercita-cita ingin menjadi pemain sepakbola handal. Namun pagi itu ia terpaksa hanya bisa melihat teman-temannya yang bermain sepakbola lantaran dirinya tak punya sepatu. “Dia adalah anak korban letusan Merapi. Rumah dan seluruh isinya hancur semua,” jelas Kepala SDN Balerante I, Harinto, Rabu (5/1).

Dua bulan sudah Arif tinggal di barak pengungsian bersama kedua orangtuanya. Ia tak lagi bisa belajar di gedung sekolah seperti biasanya. Namun, Arif tetap membuka mata dan membaca bersama para relawan di barak pengungsian Depo Pendidikan Latihan Tempur (Dodiklatpur) TNI Klaten.

Ketika tiba waktu ujian sekolah, dia tetap mengikuti ujian semampunya. Begitu pun ketika seluruh buku catatannya hancur bersama kedahsyatan letusan Merapi, putera pasangan Marsono dan Darsini itu tetap berusaha belajar betapapun hanya mengandalkan ingatannya yang masih tersisa.  “Saya suka pelajaran Matematika. Kalau nulis aksara jawa sulit,” akunya.

Arif adalah potret anak-anak lereng Merapi yang tetap gigih belajar. Letusan Merapi memang telah menghancurkan segalanya. Namun warga Banjarsari, Balerante, Kemalang itu tetap memiliki mimpi. Setiap hari, ia selalu bangun pagi pukul 05.00 WIB. Bersama puluhan rekan-rekannya di posko pengungsian Klaten Kota, ia berangkat sekolah dengan menumpang truk pengangkut pasir.

Ia rela melakoninya setiap hari, meski jarak tempuh dari posko pengungsian ke sekolahnya kini tak kepalang tanggung, yakni sejauh 33 Km. “Kadang-kadang anak-anak telat ke sekolahnya. Karena, truknya harus menanti para penggali pasir lainnya,” kata Harinto.

Ada sekitar 40 siswa-siswi SDN Balerante I yang hingga kini tak memiliki tempat berteduh selain di posko pengungsian. Kondisi itu memang mencemaskan. Sebab, ketika proses belajar mengajar di sekolah telah kembali normal, maka anak-anak korban letusan Merapi itu harus berjuang mengejar matahari di lereng Merapi seorang diri.

Pilihan itu memang terasa berat. Tapi, itulah kegigihan anak-anak Merapi. “Sebenarnya saya khawatir juga anak-anak berangkat sekolah sangat jauh. Tapi, kalau tak diizinkan, mereka menangis,” sahut Tomo Yoso, warga Balerante lainnya yang kedua puteranya masih duduk di bangku kelas V dan kelas II SD.

lowongan pekerjaan
STAFF SHIPPING, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


Iklan Cespleng
  • MOBIL DIJUAL TERIOS TS’2008,Mulus/Gagah R18,Comp AC Baru,Silver,125JtNego, Hub=085640166830 (A001…
  • LOWONGAN CR SALES Konveksi,Wanita,Usia 24-38Th,Gaji Pokok+Uang Makan+Bensin+Bonus.Hub:DHM 082134235…
  • RUMAH DIJUAL DIJUAL RUMAH Sederhana,Jl,Perintis Kemerdekann No.50(Utara Ps.Kabangan)L:12×7 Hub:081…
Lihat Semua Iklan baris!

Kolom

GAGASAN
Komodifikasi Hoaks

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Senin (11/9/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Berita tentang Saracen, kelompok yang diduga sebagai salah satu pelaku penyebarluasan konten…