Kamis, 6 Januari 2011 21:27 WIB Karanganyar Share :

Pemasangan bando gapura perbatasan akibatkan kemacetan

Karanganyar (Espos)--Pemasangan bando gapura perbatasan di Palur, Jaten, oleh Pemkab Karanganyar, Kamis (6/1), mengakibatkan macet sepanjang kurang lebih 1 km dan berlangsung berjam-jam.

Berdasarkan pantauan Espos di lokasi, kemacetan terjadi akibat ditutupnya ruas jalur selatan di simpang tiga Palur dan dialihkan ke ruas jalur utara. Hal itu dilakukan untuk menyeterilkan lokasi pemasangan bando di perbatasan Karanganyar-Solo, tepatnya 50 meter sebelah timur jembatan Sungai Bengawan Solo. Akibatnya, arus lalu lintas menjadi sangat padat karena satu ruas jalur digunakan untuk arus kendaraan dua arah, yakni arah Solo-Karanganyar dan sebaliknya.

Hingga pukul 13.30 WIB kemacetan terjadi dari depan Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), Solo, hingga Tugu Intanpari, Palur, Jaten, Karanganyar. Arus lalu lintas padat merayap karena kendaraan terpaksa harus melaju sangat lambat dan bahkan berhenti.

Di titik-titik tertentu polisi berusaha mengatur arus lalu lintas agar kemacetan dapat dikurangi. Menurut salah satu polisi lalu lintas dari Satlantas Polres Karanganyar, yang enggan disebutkan namanya, kemacetan terjadi sejak pukul 09.00 WIB saat dipasangnya lengkungan tersebut.

Ia harus rela tidak istirahat dan selalu berdiri di jalan untuk mengatur lalu lintas agar kendaraan tidak memasuki jalur yang harus disterilkan. Ia menyampaikan, untuk mengurangi kemacetan, kendaraan dari arah Sragen menuju Solo dialihkan melewati Mojosongo melalui ruas jalan di Sroyo. “Macet sejak pagi. Hingga siang kemacetan belum berkurang,” papar dia.

Kemacetan diperparah saat laju kendaraan dari dua arah yang berlawanan benar-benar dihentikan untuk memberi kesempatan mobil pengungkit mengangkat bando yang berlangsung sekitar satu jam.

Seluruh jenis kendaraan berhenti total sehingga penumpukan kendaraan semakin banyak dan kemacetan semakin panjang. Untuk menghindari kemacetan yang terlalu panjang, petugas konstruksi sengaja memberhentikan kegiatan beberapa menit agar kendaraan dapat melaju.

Pemasangan bando juga menjadi tontonan warga sekitar. Namun, tidak sedikit pula pengendara motor yang sengaja berhenti untuk menonton atau sekadar mengabadikan aktivitas tersebut dengan kamera telepon selular. Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan,

Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Karanganyar, Nunung Susanto, mengatakan pembangunan gapura perbatasan yang menelan biaya lebih dari rp 200 juta tersebut bertujuan untuk memperjelas area perbatasan Karanganyar-Solo selain untuk memperindah wajah Karanganyar. “Pembangunannya kurang lebih selama dua bulan. Identitas Karanganyar diharapkan lebih dikenal masyarakat luas dengan dibangunnya gapura perbatasan itu,” paparnya.

m93

LOWONGAN PEKERJAAN
Administrasi ( Wanita ) & Manager ( Pria), informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…