DI PERMUKAAN AIR—-Penari melenggak-lenggok di panggung di sebuah kolam di Klong Sabua Floating Market, Ayutthaya, Sabtu (18/12/2010). Terlihat seakan penari berjalan di permukaan air. DI PERMUKAAN AIR—-Penari melenggak-lenggok di panggung di sebuah kolam di Klong Sabua Floating Market, Ayutthaya, Sabtu (18/12/2010). Terlihat seakan penari berjalan di permukaan air.
Kamis, 6 Januari 2011 02:57 WIB Travel Share :

Menarik turis lewat festival tahunan (Thailand-bagian III/habis)

DI PERMUKAAN AIR—-Penari melenggak-lenggok di panggung di sebuah kolam di Klong Sabua Floating Market, Ayutthaya, Sabtu (18/12/2010). Terlihat seakan penari berjalan di permukaan air.

Teman duduk saya di pesawat dari Jakarta menuju Bangkok adalah seorang lelaki berusia 40-an tahun. Ketika ngobrol  mengenai tujuan perjalanan, dia mengatakan wisata Thailand sering diidentikkan dengan Bangkok, Pattaya, Phuket dan sejenisnya yang menawarkan wisata belanja, pemandangan pantai hingga wisata khusus lelaki di kawasan “lampu merah”.

Dia bersama rekan-rekannya—kebanyakan lelaki–mendapat bonus berlibur ke Thailand dari bank tempat mereka bekerja. Dia akan ke Bangkok dan Pattaya. Saat saya bilang mau ke Ayutthaya, dia malah bertanya,”Ke Pattaya sendirian?” Saya meluruskan, “Ayutthaya, bukan Pattaya.”
“Oooo, Ayutthaya.”

Berbicara wisata Thailand, ada hal yang kadang tidak masuk radar wisatawan Indonesia yaitu wisata budaya. Memang di Bangkok adalah berbagai wat atau candi yang indah-indah seperti Grand Palace hingga Wat Arun. Namun, untuk melihat eksotisme Thailand, alangkah lebih baik jika pandangan kita diarahkan ke Ayutthaya.

Pada Desember 2010, Pemerintah Provinsi itu menggelar Ayutthaya World Heritage and Red Cross Fair 2010, Desember lalu. Event utamanya adalah heritage fair (wisata warisan masa lalu). Pemerintah setempat mengintegrasikan Red Cross Fair (penggalangan dana Palang Merah) ke dalam event itu.

Beberapa acara yang dihelat antara lain retro market termasuk pasar terapung, kontes makanan tradisional, kontes lagu tradisional hingga pergelaran kolosal perjalanan Kerajaan Ayutthaya. Ada juga pameran produk unggulan serta bazar. Yang terakhir disebut, saya memastikan sama seperti bazar pada acara Sekaten.

Tempat penyelenggaraan acara ini kebanyakan di situs warisan dunia (world heritage site) di kompleks Phra Nakhon Si Ayutthaya Historical Park dan sekitarnya.

Setiap tahun, kota ini menggelar sejumlah festival yang dijual kepada turis jauh-jauh hari sebelumnya. Di antaranya <I>Bang Sai Loi Krathong Festival setiap Oktober atau November di Bang Sai Royal Arts and Craft. Dalam festival ini, ditampilkan kontes perahu tradisional  (Krathong), balapan perahu internasional yang diluncurkan  pada malam bulan purnama hingga pameran kerajinan.

Lalu Ayutthaya World Heritage Site. Kemudian Songkran Festival yang biasa dihelat pada April, dengan tetap menampilkan hal-hal bernuansa tradisional. Acara-acara itu digelar secara rutin. Bahkan, pada 2009, di Ayutthaya digelar Thailand International Hot Air Balloon Festival, menampilkan balon-balon dari seluruh dunia di awan Ayutthaya. Kota itu juga jadi tempat penyelenggaraan World Thai Martial Art Festival (Festival Bela Diri Thailand).

Selain itu, ada juga pergelaran rutin setiap pekan. Contohnya pergelaran tari di air, di Klong Sabua Floating Market and Water Theatre, dekat Wat Na Phramane. Ada panggung di dalam air di tengah kolam. Sambil menikmati makanan, penonton menyaksikan penari berlenggak-lenggok seakan berada di permukaan air.

Ayutthaya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Jogja atau Soloraya. Bekas kejayaan masa lampau ada di tiga kota itu. Jogja dan Solo dan sekitarnya mempunyai keraton, candi-candi serta kebudayaan yang dapat dijual kepada turis domestik dan asing. Biaya hidup dan harga makanan pun tidak jauh berbeda, relatif murah termasuk untuk turis berkantong cekak (backpacker).Keramahtamahannya juga sama.

Selain itu, Solo dan Jogja mempunyai festival yang dihelat secara rutin. Solo mempunyai antara lain Solo Batic Carnival (SBC), Solo International Etnic Music Festival, lalu Solo International Etnic Performing Art Festival dan festival kuliner dan budaya lainnya.

Jogja pun demikian. Pada September-Oktober 2010 saja, sejumlah pawai digelar dalam rangka Festival Museum, Jogja International Street Performance, pawai mozaik yang dilaksanakan terkait HUT Kota Jogja hingga <I>Jogja Java Carnival.

Banyaknya festival yang dihelat membuat wisatawan berdatangan. Apalagi jika diagendakan jauh-jauh hari sebelumnya. Wisatawan biasanya mengaitkan kepergiannya dengan event yang menarik.

Jika dikemas rapi dan profesional, dipublikasikan jauh-jauh dari sebelumnya, festival-festival di Solo maupun Jogja, akan lebih banyak mendapat perhatian para turis. Apalagi, sekarang, promosi wisata sangat mudah dilakukan melalui dunia maya. Walau sempat menuai kontroversi karena memakan biaya tidak sedikit, festival-festival di Solo dan Jogja itu paling tidak akan memberi efek berantai, meningkatkan ekonomi masyarakat.

Sifaul Arifin

lowongan pekrjaan
TENAGA ADM KONVEKSI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Leave a Reply


Iklan Cespleng
  • MOBIL DIJUAL JL CPT Taft GT4x4’94,Body Kaleng,Ori,Asli KLATEN:081391294151 (A00593092017) DP Mura…
  • LOWONGAN CARI PTIMER 2-4 Jam/Hari Sbg Konsltn&SPV Bid.Kshtn All Bckgrnd Smua Jursn.Hub:0811.26…
  • RUMAH DIJUAL Jual TNH&BGN HM 200m2,LD:8m,Strategis,Makamhaji,H:08179455608 (A00280092017) RMH LT13…
Lihat Semua Iklan baris!

Kolom

GAGASAN
Bangjo untuk Citra Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (19/9/2017). Esai ini karya Sugeng Riyanto, Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah ust.sugeng@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Dalam rapat kerja Komisi III DPRD Kota Solo bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Kota…