Kamis, 6 Januari 2011 17:33 WIB Ekonomi Share :

Industri tekstil dan plastik makin kedodoran

Solo (Espos)--Kenaikan harga minyak dunia telak membuat industri tekstil dan plastik makin kedodoran. Tak terkecuali pelaku industri di Soloraya yang juga mengkhawatirkan tren kenaikan harga minyak dunia yang saat ini sudah di kisaran US$90 per barel.

Seperti disampaikan Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jateng, Djoko Santoso.  “Kenaikan harga minyak dunia akan berpengaruh signifikan pada kenaikan harga plastik. Sehingga, bahan baku tekstil jenis rayon dan poliester pasti akan terkerek. Rayon dan poliester ini biasa digunakan untuk bahan baku campuran benang sebagai pengganti kapas,” papar Djoko, kepada <I>Espos<I>, Kamis (6/1).

Menurutnya, kenaikan harga minyak dunia ini membuat industri tekstil semakin kalang kabut. Karena, di saat kondisi pasokan kapas dunia yang terbatas dan harganya melambung tinggi seperti saat ini, permintaan rayon dan poliester dunia pun meningkat tajam. Sehingga, suplai poliester ini pun terbatas. “Jadi, saat ini pun poliester dan rayon ini sudah naik terlebih dahulu kisaran 5% hingga 10%. Kalau harga minyak dunia terus naik, tentu harganya akan lebih tinggi lagi.”

Djoko mengatakan, persoalan bahan baku campuran benang pengganti kapas ini menjadi persoalan serius di industri tekstil. Karena, untuk mendapatkan poliester pelaku industri tekstil masih harus impor. “Di Indonesia pabrik yang memproduksi poliester masih sangat minim.”

Kemudian, lanjutnya, kenaikan harga minyak dunia ini juga akan mendongkrak biaya operasional terutama bagi industri yang masih menggunakan bahan bakar minyak (BBM) sebagai sumber energi. Karena, sudah ada industri yang menggunakan batu bara. “Tetapi, kenaikan biaya transportasi seperti kontainer atau biaya pengapalan nanti pasti akan naik,” tambahnya.

Senada disampaikan Sekretaris Eksekutif Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Solo, Rihatin Boedijono. “Industri plastik, tekstil dan industri yang bergerak di bidang olahan pasti akan terpukul dengan kenaikan harga minyak. Selain mendorong kenaikan harga bahan baku, saat ini pemerintah mulai mewacanakan adanya kenaikan harga BBM. Wacana ini sangat kami sesalkan, apa sudah tidak ada kebijakan lain?” papar Rihatin.

Menurutnya, Indonesia memiliki banyak blok minyak yang belum dieksplor secara maksimal, seperti blok Cepu dan blok Madura. “Tapi, dengan kenaikan harga minyak dunia sekarang ini seolah pemerintah tidak punya sikap lain selain khawatir. Kayak kita (Indonesia-red) ndak punya energi saja. Mbok yang ada itu dieksplorasi saja. Jadi, dengan kenaikan harga minyak dunia kita bisa kaya.”

Rihatin mengatakan, pihaknya pernah menerima informasi dengan kenaikan harga minyak dunia maka harga BBM berpotensi naik Juli 2011. “Kalau benar-benar naik, tentu industri dalam negeri makin kedodoran. Karena, upah tenaga kerja sudah naik 5,28% sehingga menaikkan cost 5%. Dari listrik sudah naik 10% sehingga mengerek kenaikan biaya produksi lagi sampai kisaran 6%. Belum lagi, sekarang produk-produk impor terus membanjiri pasar domestik.”

haw

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…