Kamis, 6 Januari 2011 19:44 WIB Ekonomi Share :

Harga pangan dunia sentuh rekor tertinggi

Washington — Harga pangan dunia melonjak selama Desember 2010, dengan Indeks Harga Pangan FAO mencapai rekor tertingginya. Kenaikan harga pangan itu melebihi yang terjadi pada 2008, ketika terjadi lonjakan dan menyebabkan kerusuhan di sejumlah negara.

Indeks Harga Pangan Food and Agriculture Organization (FAO) mencatat rekor tertingginya sejak mulai dibuat di 1990. Indeks naik selama 6 bulan berturut-turut dipucu lonjakan harga gula dan naiknya harga minyak dan sereal.

Seperti dikutip dari Reuters, Kamis (6/1), secara nominal, Indeks Harga Pangan FAO melampaui angka tertinggi pada krisis pangan Juni 2008 di level 213,5.

Indeks yang menghitung perubahan harga kumpulan bahan pangan seperti sereal, bijih minyak, susu, daging, dan gula rata-rata mencapai 214,7 pada Desember 2010, naik dibandingkan November yang sebesar 206.

Indeks Harga Gula FAO juga tercatat menembus rekor tertinggi di 398,4 poin pada Desember dibandingkan angka pada November yang sebesar 373,4 poin.

Indeks Harga Sereal, yang menghitung harga dari bahan makanan pokok seperti gandung, beras, dan jagung naik ke 237,6 poin pada Desember, tertinggi sejak Agustus 2008. Indeks ini juga naik jika dibandingkan per November 2010 yang sebesar 223,3 poin.

Indeks Harga Minyak juga melonjak ke 263 poin pada Desember, dibandingkan angka pada November di 243,3.

Menanggapi lonjakan harga pangan dunia itu, pemerintah Indonesia hari ini menggelar rapat paripurna untuk membahasnya. Pemerintah berjanji untuk terus meningkatkan stabilitas pangan guna menghadapi lonjakan harga pangan dunia itu.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa menjelaskan, permintaan pangan global saat ini memang melebihi produksi. Ia mencontohkan, produksi jagung dunia tercatat hanya naik 1,01% namun konsumsinya naik 2,5% dan stok turun hingga 11,7%. Sementara gandum produksinya turun 5,2%, konsumsi naik 2,5%, sementara stok turun 10%. Sedangkan beras produksi naik 2,7%, konsumsi naik 3,5% dan stok turun 0,52%.

“Ini kondisi di dunia, mengapa terjadi penurunan? Karena terjadi iklim anomali. Kedua, karena konsumsi yang meningkat karena pertambahan penduduk. Ketiga, karena kelas menengah baru yang meningkat yang mengkonsumsi lebih besar,” jelas Hatta usai sidang kabinet.

dtc/tya

LOWONGAN PEKERJAAN
Tegar Transport Hotel Paragon Solo, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…