Rabu, 5 Januari 2011 19:43 WIB Travel Share :

Indahnya sore di tepi Sungai Chaophraya (Thailand--II)

Suatu sore di Wat Phutthai Sawan yang terletak di tepi Sungai Chaophraya, yang membelah Kota Ayutthaya. Kota itu memang dikelilingi sungai seperti Sungai Chaophraya, Pasak dan Khong Ku Muang. Dua orang bikhu muda, Kaweewat dan Amoon, melempar sesuatu ke sungai. Awalnya, saya mengira keduanya membuang sampah makanan. Ketika saya dekati, makanan itu disambut ikan-ikan. Setiap melempar makanan, Kaweewat dan Amoon menikmati kecipak air akibat gerakan ikan berebut makanan.

Begitu seterusnya sampai isi dandang besar itu ludes.
Di sela-sela itu, terdengar suara alat gesek. Bocah perempuan kecil memakai pakaian tradisional kemben, menggesek rebab. Rambutnya pendek. Dia duduk di amben dengan kaki ditekuk ke belakang. Suara alat musik gesek itu seakan membawa pengunjung ke alam mistis.

Di sampingnya, ada beberapa barang kebutuhan rumah tangga yang dibungkus plastik. Juga sebuah kotak amal dengan tulisan: Donasi untuk pendidikan.

Wat Phuthai Sawan tidak seperti wat-wat lain di Ayutthaya yang sudah rusak—hanya berupa tumpukan bata atau sisa-sisa kejayaan masa lampau akibat serangan pasukan Burma. Wat yang terletak di seberang Kota Ayutthaya ini masih bagus kondisinya.

Di bagian depan, terdapat patung Buddha dari perunggu yang diletakkan di bangunan dari kaca. Kemudian, masuk bagian dalam, terdapat bangunan berisi patung Buddha berwarna keemasan. Sejumlah pengunjung terlihat terpekur, memanjatkan berdoa. Ada yang bersemedi.

Masuk ke dalam lagi, ada bangunan Prang Pathan. Di sinilah terdapat tower dengan model Khmer yang tinggi menjulang. Di sekelilingnya terdapat serambi, yang isinya patung-patung Buddha berjejer.

Saya ke wat ini untuk mencari patung Buddha dalam posisi tidur. Selama belasan menit mencari, saya tak juga menemukannya. Saya sampai bertanya kepada Kaweewat letak patung itu. Dia menunjuk bangunan tanpa atap di ujung kompleks di sebelah kanan. Akhirnya saya mendapatkannya, patung Buddha dalam posisi tidur tapi matanya tetap terbuka dan tersenyum.

Di Ayutthaya, patung Buddha tidur tidak hanya di sini. Di Wat Lokayasutharam, terdapat patung Buddha tidur juga, bahkan lebih besar, panjang 37 meter dan tinggi delapan meter. Di sekelilingnya, terdapat stupa, pagoda dan tugu lonceng, sebagaimana layaknya ada di candi Buddha.

Letaknya di pinggir kota. Wat-wat yang lain antara lain Wat Mahathat, Wat Phra Ram, Wat Phra Si Sanphet, Wat Ratchaburana, Wat Chaitthanaram, Wat Lokayasutharam, Wat Yai Chai Mongkol, Wat Phanan Choeng, Wat Naphrameru. Masih ada objek lain seperti The Royal Palace, Chao Phraya National Museum, King Uthong Monument, Thai Boat Museum, Chantarkasem Museum dan masih banyak objek wisata lainnya.

Sebagian wat–wat itu dibiarkan dalam bentuk apa adanya. Di sepanjang jalan, Anda akan menemui berbagai wat termasuk yang telah hancur, tinggal gundukan batu bata. Memang berbeda dengan wat di Bangkok yang rata-rata masih utuh.

Selama tiga hari di Ayutthaya, saya betul-betul dijejali dengan pemandangan beragam wat. Kalau mau disambangi satu persatu, tidak cukup satu hari. Lha wong jumlahnya puluhan. Yang utama tentu saja wat yang jumlahnya sangat banyak yang indah dan eksotis seperti Wat Mahathat dan Wat Phra Si Sanphet.

Pada hari kedua di kota ini, Sabtu (18/12), saya memilih menyewa sepeda untuk berkeliling kota. Betapa banyak wat, besar maupun kecil yang berupa reruntuhan dan tumpukan batu bata. Ayutthaya memang kota masa lampau, menyimpan jejak sejarah. Karena itu, UNESCO menetapkan Ayutthaya sebagai situs warisan dunia. Pemerintah Thailand juga gencar mempromosikan heritage sites ini sebagai daya tarik wisata.

Sifaul Arifin–Bersambung

LOWONGAN PEKERJAAN
QUALITY CONTROL & ADMIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…