Selasa, 4 Januari 2011 23:38 WIB Sragen Share :

Lahan tanaman cabai baru bermunculan di Tanon

Sragen (Espos)–Harga cabai yang melambung sangat tinggi membuat petani cabai baru bermunculan. Spot-spot lahan tanaman cabai tersebut tersebar di sejumlah desa di Kecamatan Tanon.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pertanian Kecamatan Tanon, Bukhori mengatakan kemunculan spot-spot baru tersebut memang tak seberapa jika diukur dari total luas lahan yang umumnya ditanami cabai. Di Kecamatan Tanon, Bukhori mencatat terdapat antara 70-80 hektar (ha) lahan tanaman cabai. Sebagian besar berada di Desa Kecik dan Desa Gawan.

“Selebihnya tersebar hampir di semua desa. Memang sekarang mulai muncul petani baru, tapi hanya spot-spot kecil saja. Belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal,” terang Bukhori, kepada Espos, Selasa (4/1).

Budidaya tanaman cabai di Tanon, menurut dia, menuntut kesiapan petani untuk menerima resiko terburuk. Pasalnya, lahan pertanian di sekitar Tanon berada dekat dengan aliran Sungai Bengawan Solo, sehingga sangat rawan tergenang. Apalagi di musim seperti kali ini. Untuk itu, petani umumnya hanya menanam cabai seusai musim hujan, yaitu sekitar bulan Februari dan Maret. Di awal tahun seperti saat ini, petani baru melakukan persiapan awal.

Kendala genangan air diakui menjadi masalah utama bagi petani cabai. Kepala Desa (Kades) Gawan, Sutrisna mengungkapkan petani cabai di desanya hati-hati memilih waktu untuk menanam padi. Kondisi itu disebabkan permukaan air di Sungai Bengawan Solo yang mengalir tak jauh dari areal pertanian warga, sehingga hujan deras yang terjadi di bagian hulu sungai bisa menyebabkan air sungai meluap dan menggenangi areal pertanian. “Saat ini petani belum berani tanam, baru nanti di bulan Februari,” ujarnya.

Sementara itu, pantauan di pasar tradisonal harga cabai masih melambung. Di Pasar Gemolong, harga cabai rawit merah masih berada pada kisaran Rp 70.000-Rp 80.0000/kg, serta cabai keriting Rp 60.000/kg. Sedangkan cabai rawit hijau dijual seharga Rp 50.000/kg dan cabai besar Rp 40.000/kg. Tingginya harga cabai jenis cabai rawit merah membuat pedagang enggan kulakan. Akibatnya jenis cabai itu menghilang di pasaran.

Kepala Pasar Gemolong, Joko Supriyanto membenarkan harga cabai masih melambung tinggi. Menurut dia, hal itu dipicu sepinya pasokan. Selama ini, pasokan cabai untuk Pasar Gemolong mengandalkan pedagang di Pasar Legi atau dipasok langsung dari Muntilan Magelang, Kopeng Salatiga, Boyolali dan Tawangmangu Karanganyar. Bencana di Merapi, hujan yang terus-menerus turun serta serangan hama membuat pasokan cabai dari sejumlah lokasi itu menurun tajam.

tsa

lowongan pekerjaan
Pengawas, Estimator, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Leave a Reply


Iklan Cespleng
  • MOBIL DIJUAL JL CPT Taft GT4x4’94,Body Kaleng,Ori,Asli KLATEN:081391294151 (A00593092017) DP Mura…
  • LOWONGAN CARI PTIMER 2-4 Jam/Hari Sbg Konsltn&SPV Bid.Kshtn All Bckgrnd Smua Jursn.Hub:0811.26…
  • RUMAH DIJUAL Jual TNH&BGN HM 200m2,LD:8m,Strategis,Makamhaji,H:08179455608 (A00280092017) RMH LT13…
Lihat Semua Iklan baris!

Kolom

GAGASAN
Bangjo untuk Citra Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (19/9/2017). Esai ini karya Sugeng Riyanto, Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah ust.sugeng@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Dalam rapat kerja Komisi III DPRD Kota Solo bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Kota…