Selasa, 4 Januari 2011 20:37 WIB Solo Share :

Banjir sudah menjadi keluarga kami..

Leon, bocah berkulit putih asal Putat, Sewu, Jebres itu asik berenang di air banjir Sungai Bengawan Solo yang menggenangi kampungnya, Selasa (4/1) siang. Keruh dan kotor air banjir tak dipedulikannya. Bersama teman-teman kecilnya, bocah gempal menggemaskan itu juga tak meggubris orangtuanya yang terduduk dengan wajah cemas di tenda pengungsian tak jauh dari genangan banjir.

Di sudut lain beberapa perempuan lanjut usia (Lansia) beristirahat di tenda pengungsian. Sebagian yang lain sekadar menghabiskan waktu dengan memeriksakan diri kepada medical action team PMI Solo yang sedari pagi menggelar pengobatan gratis. Tak banyak yang dapat dilakukan para korban banjir itu selain menunggu air surut. Juga menunggu datangnya bantuan dari Pemkot Solo yang tak juga turun. “Pak Rudy sudah ke sini, katanya akan ada bantuan. Ya kami tunggu saja dulu,” ujar Margiyo, warga RT 3/RW II Putat, Sewu saat ditemui Espos.

Kendati tidak ada korban jiwa atau luka namun warga sangat membutuhkan makanan. Pasalnya warga tidak bisa mengolah makanan sendiri lantaran logistik dan peralatan tertinggal di rumah mereka yang masih tergenang banjir. Beruntung tim PMI Solo mengirimkan bantuan 500 nasi bungkus siap santap untuk warga di Putat, Beton dan Ledok. Sayang bantuan dari Pemkot Solo yang ditunggu-tunggu hingga pukul 12.30 WIB tak jua turun. “Banjir sudah menjadi keluarga kami, tiap penghujan pasti berkunjung. Yang kami butuhkan saat ini bantuan,” imbuhnya.

Kondisi tak kalah memprihatinkan terjadi di RT 3/RW VII, Kampung Sidoresmi, Sewu. Rumah sang ketua RT, Joko Lelono terendam banjir setinggi satu meter lebih hingga Selasa siang. Begitu juga puluhan rumah warga setempat. Musala An Nuur yang berada di lokasi lebih tinggi menjadi pilihan tepat untuk berlindung. Tentu kaum Lansia dan anak-anak jadi prioritas untuk diungsikan ke musala. Di musala mini itu puluhan warga Sidoresmi meregang asa akan hidup tenang tanpa usikan banjir yang puluhan terakhir selalu menghantui.


kur

PT. SAGO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply



Kolom

GAGASAN
Kemanusiaan Keluarga Polk

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/9/2017). Esai ini karya Anindita S. Thayf, seorang novelis dan esais yang tinggal di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah bambu_merah@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Persekusi terhadap warga Rakhine etnis Rohingya di Myanmar…