Senin, 3 Januari 2011 14:20 WIB Travel Share :

World Heritage and Red Cross Fair Ayutthaya, Thailand (Bagian I)

Menghadirkan atmosfer lampau ke zaman sekarang

Selama tiga hari, Jumat-Minggu (17-19/12), wartawan SOLOPOS, Syifaul Arifin, meliput World Heritage and Red Cross Fair 2010 di Provinsi Ayutthaya, sekitar 1,5 jam perjalanan dari Bangkok, Thailand. Berikut reportasenya soal pengembangan wisata heritage dalam tulisan bersambung.

Seorang perempuan berpakaian tradisional melayani warga yang menukar uang, Jumat malam. Pakaian bagian atasnya berupa kain selempang warna merah muda sedangkan bawahnya kain tenun. Rambutnya jatuh ke pundak sebelah kiri.

Ketika menukar uang 40 baht, saya mendapatkan tiga butir uang kuno berwarna abu-abu lalu uang sejenis yang ukurannya lebih kecil, berwarna keemasan.

Uang kuno yang disebut Pot Duang itu bukan dari logam tapi kayu. Yang abu-abu masing-masing bernilai 10 baht sedangkan yang kecil 5 baht. Uang kuno tiruan itu jadi alat pembelian di pasar makanan tradisional (retro market) di kawasan Wat Mahathat, Ayutthaya.

Ada puluhan pedagang makanan. Sebagian berdagang di perahu yang bersandar di tepi danau kecil. Lainnya di lapangan rumput. Pengunjung menyantap makanan di balai bambu sambil menikmati candi yang terkena sorot sinar, menimbulkan kesan eksotis.

Wat Mahathat menjadi background pasar itu. Dalam kesempatan itu, pengunjung menikmati Ayutthaya zaman dulu ketika Kerajaan Ayutthaya masih eksis.

Suasana zaman dulu mengejawantah dalam dunia sekarang melalui berbagai cara dalam World Heritage and Red Cross Fair 2010.
Dengan uang kuno tiruan itu, saya membeli ketan pada wadah gerabah berbentuk perahu.

Satu wadah berisi banyak ketan, dari mulai ketan putih, cokelat manis dan ada yang diberi srundeng. Tidak jauh berbeda dengan Indonesia.

Ada juga nasi goreng, lalu pad thai–mi dengan taburan kacang, taoge dengan rasa asam, manis dan pedas, kemudian sate babi. Jangan khawatir bagi yang tidak makan babi, ada pedagang makanan halal.
Penjualnya berjilbab dan depotnya dikasih tulisan halal dalam bahasa Arab. Sedangkan minumannya beragam dari mulai dawet, sari buah hingga sirup. Lidah pengunjung betul-betul dimanja dengan berbagai makanan itu.

Sesekali, kelompok musik tradisional bertopi jerami berjoget dengan iringan kendang menghibur pengunjung.

Selain makanan dan musik serta tari-tarian, yang banyak mendapat perhatian pengunjung festival itu adalah pergelaran drama kolosal mengenai perjalanan Kerajaan Ayutthaya.

Tahun ini, acara itu diproduksi oleh tim dari Rajabhat University, Ayutthaya, melibatkan 350-400 pemain serta beberapa gajah yang terlatih.

Dalam semalam, dua pertunjukan digelar dengan tiket senilai 200 baht. Kursi berkapasitas 2.500 itu selalu penuh. Panggungnya adalah lapangan dengan background Wat Mahathat.

Permainan cahaya, kembang api, ratusan pemain dengan berbagai kostum serta gajah yang terlibat dalam peperangan menarik perhatian pengunjung. Mereka tak segan bertepuk tangan menyaksikan pasukan bergajah menghalau musuh.

Ceritanya memang berkaitan dengan perjalanan Kerajaan Ayutthaya. Dari mulai Raja Ramathibodi I yang dikenal sebagai Uthong membangun kota ini pada 1350.

Uthong maupun penerusnya membangun wat, istana serta berbagai ikon kota, menjadikan kawasan ini sebagai kota yang indah. Dalam suasana damai, rakyat hingga gajah menari. Juga digambarkan akulturasi budaya Ayutthaya dengan Eropa, Arab, dan negara Asia lainnya.

Namun, bencana datang. Pasukan Burma menyerang, menghancurluluhkan kota pada 1767. Bangunan-bangunan dibakar, rakyat dan pasukan terbunuh dalam peperangan yang melibatkan pasukan bergajah.

Seusai acara, penonton ramai-ramai turun ke lapangan, berfoto bersama pemain termasuk gajah. Pertunjukan ini mengingatkan saya pada Sendratari Ramayana di kawasan Candi Prambanan.

Namun, yang digelar di Ayutthaya ini lebih besar, melibatkan banyak pemain dan penonton. Betul-betul dikelola secara profesional.

Bersambung

lowongan pekerjaan
CV MITRA RAJASA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…