Senin, 3 Januari 2011 07:34 WIB Wonogiri Share :

Musim hujan, produksi gula Parang susut 30%

Wonogiri (Espos)--Produksi gula merah atau gula jawa parang di Desa Gunturharjo Kecamatan Paranggupito merosot hingga sekitar 30% selama musim penghujan.

Tingginya curah hujan justru membuat sadapan nira kelapa menjadi berkurang.

Pengrajin gula parang di Dukuh Petir Desa Gunturharjo, Wawan, 27, menyebutkan dalam situasi normal dirinya bisa memroduksi sebanyak 12 –13 kilogram (Kg)/hari.

Namun saat berlangsungnya musim penghujan, kemampuan membuat gula jawa parang turun menjadi hanya sekitar delapan Kg.

“Logikanya kalau sedang musim hujan nira akan makin banyak. Tapi ini yang terjadi kebalikannya, hasil sadapan untuk bahan baku pembuatan gula justru turun. Akibatnya kapasitas produksi juga menyusut hingga sepertiganya,” ujarnya saat ditemui wartawan di desa setempat, akhir pekan lalu.

Wawan menjelaskan untuk bisa membuat gula merah delapan Kg, diperlukan nira kelapa sebanyak 30-an liter. Nira sejumlah itu diambilnya dari 11 pohon kelapa yang dimiliki.

Sedangkan saat musim kemarau, jelasnya, nira yang dihasilkan setiap pohon jauh lebih banyak dengan kualitas lebih baik.

Dia juga mengatakan sebagian besar warga di Dukuh Petir merupakan pengrajin gula merah yang  dikenal dengan gula parang.

Dengan kendala cuaca, terangnya, kapasitas produksi pengrajin lain di dukuhnya juga mengalami penyusutan saat berlangsung musim hujan. Bahkan mungkin lebih besar.

“Dari warnanya saja sudah kelihatan bedanya antara nira saat kemarau dan saat musim penghujan. Ketika kemarau nira lebih pekat dengan warga seperti teh.

Sedangkan di musim hujan, nira lebih bening dan berwarna putih seperti susu. Kualitasnya jauh lebih bagus saat kemarau,” sambungnya.

Isteri Wawan, Sri Lestari, menambahkan gula parang dibuat tanpa campuran apa pun. Gula merah tersebut saat ini sudah dipasarkan sampai Solo, Semarang, Jakarta, dan juga daerah-daerah lain. Dari pengrajin, bahan baku aneka masakan itu senilai dijual Rp 7.000/Kg.
Namun dengan kemasan dan pada momen-momen tertentu, gula parang bisa dijual dengan harga sedikit lebih mahal.

“Banyak penduduk Petir membuat gula merah sejak lama. Selain bahan baku yang mudah didapat, prosesnya mudah dan hampir tidak memerlukan modal. Hanya kayu bakar dan cetakan saja untuk mengolah nira menjadi gula. Produk gula parang juga murni tanpa campuran,” paparnya.

try

lowongan pekerjaan
NUSANTARA SAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Musik untuk Palestina

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (12/12/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pendengar musik metal ala Timur Tengah. Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bikin masalah lagi….