Senin, 3 Januari 2011 13:06 WIB Ekonomi Share :

Impor November, tertinggi sepanjang sejarah

Jakarta–Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tren pertumbuhan impor lebih besar dibandingkan pertumbuhan ekspor pada tahun ini. Nilai impor bulan November dibukukan di posisi tertinggi sepanjang 2010 dengan mencapai US$ 13,07 miliar.

“Ini rekor baru bagi impor kita tembus US$ 13,07 miliar, tertinggi sepanjang sejarah. Tertinggi sebelumnya terjadi pada Juli dengan US$ 12,06 miliar,” ujar Kepala BPS Rusman Heriawan dalam konferensi pers di kantornya, Jalan Dr. Soetomo, Jakarta, Senin (3/1).

Rusman menyatakan, angka tersebut naik 48,29% sepanjang periode Januari-November 2010 dan naik 3,99% bila dibanding Oktober 2010. “Angka impor ini sedikit lebih tinggi dari kenaikan ekspor pada periode yang sama,” ujarnya.

Sedangkan pada sisi ekspor, untuk November lalu juga mencatatkan posisi tertinggi sepanjang tahun ini dengan mencapai US$15,34 miliar.

“Ekspor pada November ini membukukan sejarah baru bagi pretsasi ekspor kita dengan mencatatkan angka tertinggi sepanjang sejarah ekspor kita. Tertinggi sebelumnya terjadi pada Oktober US$ 14,4 miliar,” jelasnya.

Angka ekspor tersebut naik 6,52% dibanding Oktober 2010 dan naik 42,34% year on year. “Untuk ekspor non migas naik 8,9%,” katanya.

Secara total, ekspor non migas untuk Januari-November 2010 mencapai US$ 140,65 miliar dan ekspor non migas US$ 115,94 miliar. Dengan negara tujuan, Jepang sebesar US$ 14,72 miliar, RRT US$ 12,38 miliar, dan AS US$ 12,03 miliar. Adapun pangsa pasar dari ketiga negara tersebut mencapai 33,75%.

BPS optimistis, ekspor hingga akhir tahun akan menembus angka US$ 150 miliar. “Dari dokumen yang kita olah, Desember sudah capai US$ 10 miliar, akan tembus US$ 150 miliar. Kita butuh US$ 10 miliar lagi dari ekspor sudah capai US$ 150 miliar,” ujarnya.

Dengan demikian, neraca perdagangan masih surplus US$ 2,27 miliar dengan nilai kumulatif US$ 18,07 miliar. Pasalnya, Indonesia diuntungkan dari harga internasional yang naik dan pasarnya berkembang.

“Jadi kenaikan ekspor kita bagus. Volume naik dan harganya naik. Misalnya, batu bara nilainya naik 75% naik volumenya naik 63%. CPO volume naik 0,98%,” ujarnya

Namun sayangnya, tren perdagangan Indonesia sepanjang tahun ini menunjukkan pertumbuhan impor lebih dibandingkan ekspor. Namun, Rusman menyatakan hal tersebut tidak perlu dipersepsikan secara sempit.

Pasalnya, jika barang yang diimpor tersebut memiliki nilai tambah maka tetap memberikan dampak yang positif bagi pertumbuhan ekonomi.

“Kenaikan impor jangan disikapi secara sempit akan mengancam surplus kita. Kita harus lihat konten dari impor kita, kalau bahan baku itu tandanya lebih baik,” tandasnya.

dtc/tiw

lowongan pekerjaan
CV MITRA RAJASA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…