Senin, 3 Januari 2011 09:18 WIB Sukoharjo Share :

Ajaran berbagi di balik Kirab Pulung Langse

Oleh: Oriza Vilosa

Singgah-singgah kala singggah
Pan Suminggah durga kala sumingkir
Singa sirah singa suku
Singa wulu singa bahu
Singa tenggak kalawan buntut
Singa tan kasat mata
Muliha ing asal neki

Demikianlah potongan bait Rerepan Singgah-singgah dilantunkan untuk mengiringi langkah Cucuk Lampah memasuki Kawasan Makam Kyai Balakan, Desa Mertan, Kecamatan Polokarto, Minggu (2/1) pagi.

Cucuk Lampah wanita dengan busana kemben itu berjalan di depan figur Raden Sujono dan puluhan paraga yang terdiri dari putri domas dan lainnya.

Rerepan Ayak-ayak  pun didendangkan menyusul saat rombongan memasuki pagar makam yang dikelilingi ratusan warga yang berkunjung saat itu.

“Raden Sujono diyakini warga sebagai salah seorang keturunan Raja Majahit, Brawijaya yang terlahir dari seorang selir,” jelas Pambiwara, Kukuh Darmosaputro di sela memandu acara budaya Kirab Pulung Langse.

Sampai di dalam bangunan pendopo atau di sebelah makam yang diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Raden Sujono, rombongan duduk bersila dan memanjatkan berbagai doa, termasuk gaung doa bernuansa Islam yang disuarakan beberapa peziarah di dalam pendopo. Beberapa perangkat ritual pun tersedia di meja-meja tempat itu.

Selesai berdoa, rombongan keluar membawa sebuntal kain putih, gunungan yang berisi nasi dan serangkaian makanan lain. Masih di tengah kerumunan pengunjung, rombongan mengkirabkan beberapa perangkat itu mengitari makam.

”Pulung Langse adalah ritual mengganti langse atau kain selimut makam Kyai Balak dan peraga Raden Sujono yang diikutkan dalam kirab adalah sebentuk cara untuk kembali memfigurkan tokoh aslinya,” tambah Kukuh.

Mengapa Raden Sujono disebut Kyai Balak? Kukuh menjawab terdapat beberapa makna di balik cerita Raden Sujono. Cerita rakyat menyebut, jelas Kukuh, Raden Sujono menyadari dirinya hanyalah keturunan raja dari selir. Dia memilih hidup di luar ingar bingar megahnya keraton dan mengabdikan dirinya di tengah warga. Konon, raden itu dikenal gemar mendermakan tenaganya untuk kepentingan rakyat jelata.

“Sampai di Kali Ranjing (Sungai di sekitar makam itu-red), Raden memantabkan diri untuk cumondok (berdiam-red dan bertapa,” kisahnya.

Cerita soal permintaan Raden Sujono terhadap warga sekitar untuk merawatnya pun sempat diungkap Kukuh. Konon, raden tersebut mengisyaratkan warga akan mendapat perlindungan atau tolak balak, baik secara kesehatan maupun rizki jika warga berkenan merawat sesame, termasuk terhadap dirinya.

Sampai saat ini, ajaran itu masih diyakini warga. Dan terbukti, simbolisasi gunungan yang diperebutkan warga saat kirab nyaris usai menjadi sebuah indikasi antusiasme warga terhadap petuah tokoh yang telah pergi ke alam baka itu.

“Cara ini salah satunya memiliki makna tentang bagaimana berbagi seperti yang diajarkan Raden Sujono,” imbuh Kukuh.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…