Senin, 3 Januari 2011 20:29 WIB Sukoharjo Share :

10 Penderita DBD di Sukoharjo meninggal dunia

Sukoharjo (Espos)–Sebanyak 10 dari 434 penderita penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Sukoharjo selama kurun waktu 2010 meninggal dunia. Penyebab kematian itu, antara lain dipicu faktor keterlambatan penanganan medis.

Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo, Rustiningsih menyatakan jumlah pasien DBD yang meninggal dunia terbanyak di Kecamatan Baki yakni tiga orang. Sedangkan pasien DBD yang meninggal dunia untuk Polokarto, Grogol, serta Kartasura, masing-masing berjumlah dua orang. Satu pasien lainnya, merupakan warga Bendosari.

“Dari 434 penderita DBD, yang sembuh sekitar 424 orang, dan yang meninggal dunia ada 10 orang,” urai Rustiningsih didampingi Kasi Pengendalian Penyakit, Tutik Karyaningsih serta Epidemolog P2, Dwi Purwanto saat dijumpai wartawan di Kantor DKK Sukoharjo, Senin (3/1).

“Keterlambatan penanganan juga menyebabkan risiko kematian akibat DBD menjadi lebih tinggi. Dari 10 penderita itu, rata-rata karena terlambat atau tidak segera ditangani,” jelas Dwi. Ia menambahkan deteksi dini terhadap penyakit DBD diperlukan untuk penanganan cepat. Penderita yang sudah mengalami demam atau panas selama dua hari berturut-turun diharapkan segera memeriksakan ke dokter atau Puskesmas terdekat.

hkt

Sukoharjo (Espos)–Sebanyak 10 dari 434 penderita penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Sukoharjo selama kurun waktu 2010 meninggal dunia. Penyebab kematian itu, antara lain dipicu faktor keterlambatan penanganan medis.

Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo, Rustiningsih menyatakan jumlah pasien DBD yang meninggal dunia terbanyak di Kecamatan Baki yakni tiga orang. Sedangkan pasien DBD yang meninggal dunia untuk Polokarto, Grogol, serta Kartasura, masing-masing berjumlah dua orang. Satu pasien lainnya, merupakan warga Bendosari.

“Dari 434 penderita DBD, yang sembuh sekitar 424 orang, dan yang meninggal dunia ada 10 orang,” urai Rustiningsih didampingi Kasi Pengendalian Penyakit, Tutik Karyaningsih serta Epidemolog P2, Dwi Purwanto saat dijumpai wartawan di Kantor DKK Sukoharjo, Senin (3/1).

“Keterlambatan penanganan juga menyebabkan risiko kematian akibat DBD menjadi lebih tinggi. Dari 10 penderita itu, rata-rata karena terlambat atau tidak segera ditangani,” jelas Dwi. Ia menambahkan deteksi dini terhadap penyakit DBD diperlukan untuk penanganan cepat. Penderita yang sudah mengalami demam atau panas selama dua hari berturut-turun diharapkan segera memeriksakan ke dokter atau Puskesmas terdekat.

hkt

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…