Minggu, 2 Januari 2011 22:42 WIB Klaten Share :

Warga Manisrengo waspada banjir

Klaten (Espos)--Warga di sekitar dam Sukorini, Kecamatan Manisrenggo meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya banjir lahar dingin menyusul hujan deras yang sering menguyur kawasan puncak Merapi. Apalagi hingga akhir pekan lalu, lumpur yang terbawa air di alur Kaliworo mencapai ketebalan satu meter di atas dam Sukorini.

Paiyem, 40, warga Tegalcandran, Desa Sukorini, Manisrenggo, Minggu (2/1), mengatakan, banjir air bercampur lumpur sudah beberapa kali melanda jalan beraspal di atas dam Sukorini. “Biasanya kalau di atas hujan deras, air meluncur sampai meloncati jalan sehingga menghambat arus lalu lintas. Tapi kalau pengguna jalan berani, banyak juga yang nekat melintas,” jelasnya di lokasi.

Dia menambahkan, setelah banjir surut, biasanya warga bergotong royong memunguti ranting pohon yang ikut terbawa arus. Selain itu, lumpur yang tertinggal juga dibersihkan supaya tak membuat jalan aspal menjadi licin. Diungkapkan Paiyem, banjir lumpur setidaknya telah terjadi tiga kali sejak Merapi meletus namun tak sampai memutuskan jalur transportasi.

Warga lainnya, Sudi, 45, menuturkan, banjir terbesar terjadi Sabtu (1/1) sore. “Padi dan palawija yang ditanam warga di sepanjang alur Kaliworo banyak yang rusak terbawa arus dan kerugiannya mencapai jutaan rupiah,” ungkapnya. Dia memperkirakan, ketebalan lumpur sudah mencapai satu meter lebih sehingga warga semakin meningkatkan kewaspadaan dan terus memantau kondisi dam.

Jika banjir terus terjadi, tambah dia, dam terancam jebol atau tertutup sebab sebagian gorong-gorongnya sudah tersumbat. Dikatakan olehnya, warga setiap kali usai banjir selalu membersihkan gorong-gorong agar lumpur tidak mengalir di atas dam. Dia menguraikan, bila dam dipenuhi material, warga yang terbiasa melintas di jalur itu akan kerepotan dan harus memutar melalui Gondang.

Camat Manisrenggo, Gandung Wahyudi menjelaskan, aliran lahar dingin yang terbawa hingga dam Sukorini baru sebatas lumpur sehingga dinilai belum begitu membahayakan keselamatan warga. “Belum ada material seperti pasir atau batu. Meski demikian, warga tetap kami minta waspada,” jelasnya. Menurutnya, warga bahkan sudah menebangi pohon besar yang dinilai menghalangi arus air.


rei

LOWONGAN PEKERJAAN
FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…