Minggu, 2 Januari 2011 22:47 WIB Sragen Share :

Suara kader Partai Demokrat Sragen pecah

Sragen (Espos)–Suara kader Partai Demokrat (PD) Sragen pecah dalam menyikapi rekomendasi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PD pada pasangan Kusdinar Untung Yuni Sukowati-Darmawan Minto Basuki (Yu-Da).

Di satu sisi, sejumlah kader menilai rekomendasi tak seharusnya jatuh di tangan kader partai lain. Sedangkan di sisi lain, kader menganggap keputusan DPP PD mutlak dipenuhi. Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) PD Kecamatan Kalijambe, Sugeng Sutrisno mengatakan keputusan DPP PD sungguh di luar dugaan.

Pasalnya, selama ini, dia bersama 14 PAC di Bumi Sukowati telah sepakat mengusulkan kandidat lain, yakni Ali Badarudin, sebagai calon bupati yang diharapkan juga mendapat rekomendasi dari DPP PD. Sugeng mengaku kecewa atas keputusan DPP itu. Dia menganggap DPP tidak mengakomodasi usulan dari tingkat grass roots.

“Itu yang mengganjal kami. Mengapa justru rekomendasi jatuh pada pasangan itu (Yu-Da-red). Mengapa bukan pada internal partai sendiri yang sudah jelas-jelas punya semangat untuk membangun partai. Apa bisa dipertanggungjawabkan komitmennya terhadap partai?” tegas Sugeng, saat dihubungi Espos, Sabtu (1/1).

Namun, pada Minggu (2/1), pengurus dari 14 PAC yang dimaksud Sugeng mengadakan jumpa pers dan menyatakan dukungan mereka pada keputusan rekomendasi DPP PD. Ketua PAC Gemolong, Ruminto mengakui sebelumnya pihaknya memang mengusulkan Ali sebagai kandidat calon bupati. Masing-masing PAC pun telah menerima dana untuk menyokong kegiatan dari kandidat tersebut senilai Rp 5 juta.

Tetapi, Rumonti menilai usulan itu sendiri kalah jika dibandingkan dengan keputusan DPP. Sebagai kader partai yang loyal, Ruminto menegaskan 14 PAC tetap mendukung keputusan DPP. “Kami hanyalah PAC, tidak bisa menolak dan harus patuh kepada DPP. Kami sudah berusaha maksimal, tapi DPP berkata lain, kami harus patuh,” tandas dia.

Keterangan Ruminto, diamini Ketua PAC PD Ngrampal, Santosa dan Ketua PAC PD Dawung, Ngatmanto. Kendati demikian, keduanya meminta DPC mengagendakan pertemuan antara PAC dengan pasangan Yu-Da. Hal tersebut penting agar mereka bisa menyampaikan sekaligus mendengar langsung komitmen Yu-Da untuk membesarkan PD. Jangan sampai, sahut Ngatmanto, dukungan terhadap Yu-Da yang notabene adalah kader partai lain justru tidak membawa keuntungan atau bahkan merugikan PD.

Sementara itu, bakal calon bupati Sragen yang bersaing memperebutkan rekomendasi dengan Yuni, Ali Badarudin, saat dihubungi, mengaku kaget dengan keputusan DPP. Pasalnya, selama ini, suara dari kalangan grass roots telah sepakat mendukung dirinya. Keluarnya rekomendasi pada pasangan Yu-Da, dinilai dia, menunjukkan DPP lebih mendengarkan suara DPC Sragen dan mengabaikan suara di tingkat PAC serta ranting.

Ditanya mengenai langkah ke depan, Ali menegaskan pihaknya hanya mengikuti kehendak dari kalangan grass roots. Meski menyadari masih ada peluang maju melalui sejumlah partai yang hingga detik ini belum menyatakan dukungan, seperti PKB, PPP, Gerindra, dan PPRN, Ali mengaku tidak ingin berspekulasi.

“Sepanjang masih ada yang menginginkan saya dan itu untuk semangat perubahan, saya rasa bisa saja. Saya akan dengan siapa saja yang membela rakyat bukan sekedar menjual partai,” tandasnya.

tsa

LOWONGAN PEKERJAAN
Bagian Legal, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…