Sabtu, 1 Januari 2011 06:49 WIB News Share :

Perayaan Tahun Baru di hotel berlangsung semarak

Semarang--Perayaan Tahun Baru 2011 di sejumlah hotel di Kota Semarang, Sabtu, berlangsung semarak dengan berbagai hiburan yang digelar masing-masing hotel.

Seperti di Hotel Ibis Semarang yang memilih tema “Night in Simpanglima” dalam perayaan Tahun Baru 2011, menghadirkan nuansa ikon Kota Semarang.

Para pengunjung disuguhi berbagai pernak-pernik khas Kota Semarang, mulai gerobak “gilo-gilo”, sebutan masyarakat Kota Semarang untuk penjual aneka jajanan tradisional tersebut.

Gerobak “gilo-gilo” dihadirkan lengkap dengan jajanan pasarnya, seperti gethuk, jadah, gorengan dan beragam makanan tradisional lainnya yang bisa langsung dinikmati oleh para pengunjung.

Terlihat pula sepeda kumbang antik, lampu minyak yang biasa disebut “senthir”, ditambah dengan pemandangan berbagai ikon Kota Semarang yang ditampilkan lewat dua layar berukuran besar.

“Kali ini, kami sengaja memilih tema ‘Night in Simpanglima’, sebab selama ini banyak tamu hotel dari luar kota yang menanyakan ikon Kota Semarang itu,” kata Marketing Communication Hotel Ibis Semarang, Tri Laksmi.

Para tamu tersebut, imbuh dia, langsung menanyakan “Simpanglima di mana?”, ketika baru masuk hotel, karena itu dalam merayakan Tahun Baru 2011 sengaja diangkat menjadi tema perayaan.

Ia menyampaikan jumlah pengunjung dalam perayaan pergantian tahun yang dipusatkan di La Table Resto and Bar Hotel Ibis Semarang itu mencapai sekitar 100 orang, di luar perkiraan sebelumnya.

Jumlah itu, tambahnya, belum termasuk tamu yang memilih tetap “stay” di kamar, mengingat dalam perayaan tahun baru sebelumnya jumlah pengunjung memang tidak sampai sebanyak itu.

“Mungkin saja, karena perayaan Tahun Baru kali ini cuaca sedang tidak bersahabat dan disertai hujan, sehingga banyak orang yang akhirnya memilih merayakan Tahun Baru di dalam ruangan, seperti di hotel-hotel,” ucap Laksmi.

Selain dihibur dengan penghadiran suasana Simpanglima dan beragam jajanan pasar, para pengunjung dihibur pula dengan pergelaran “live music” dari band lokal, semakin menyemarakkan perayaan pergantian tahun.

Hampir sama dengan Hotel Ciputra Semarang, perayaan Tahun Baru kali ini mengusung tema “Kampoeng Djawa” dengan menghadirkan nuansa perkampungan tradisional Jawa tempo dulu.

Penjual jamu gendong sesekali terlihat berkeliling lobi hotel menawarkan “dagangannya” pada pengunjung, ditambah berbagai ornamen seperti janur yang memperkuat penghadiran nuansa tradisionalitas.

Public Relation Manager Hotel Ciputra Semarang, Nuki Dhamayanti mengatakan pemilihan tema tersebut dimaksudkan untuk membuat para pengunjung serasa berada di tengah perkampungan yang asri.

“Para pengunjung juga bisa menikmati berbagai jajanan tradisional yang biasa dijajakan di kawasan perkampungan, kami ingin menghadirkan suasana baru dalam perayaan tahun baru kali ini,” jelas Nuki.

Namun, tak hanya nuansa tradisionalitas yang coba dihadirkan dalam perayaan itu, penampilan “disc jockey” (DJ) Alessandra dari Yogyakarta mampu menyulap suasana lobi layaknya sebuah diskotik dalam sekejap.

Beberapa karyawan hotel dan pengunjung pun tergerak untuk bergoyang di tengah lobi hotel seirama dentuman musik racikan DJ, sehingga membuat suasana perayaan Tahun Baru 2011 terlihat kian semarak.

ant/nad

lowongan pekerjaan
PT. ATALIAN GLOBAL SERVICE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…