Kamis, 30 Desember 2010 19:52 WIB Tak Berkategori Share :

Riana Helmi, dokter termuda di Indonesia lulus dari FK UGM berumur 19 tahun 9 bulan

Yogyakarta — Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM), Kamis (30/12), melantik 142 dokter baru. Para dokter baru itu dilantik Dekan Prof dr Ali Ghufron Mukti MSc PhD terdiri dari 96 dokter perempuan dan 46 dokter laki-laki.
Dari 142 dokter baru yang dilantik ini salah seorang di antaranya bernama Riana Helmi. Ia tercatat sebagai dokter termuda di Indonesia dengan usia 19 tahun sembilan bulan. Karena berhasil lulus sebagai dokter termuda itu, ia mendapatkan piagam penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI).

Riana Helmi adalah dokter kelahiran Banda Aceh, 22 Maret 1991. Pemberian piagam penghargaan Muri diserahkan Sri Widayanti (Wida) mewakili Ketua Muri Jaya Suprana kepada Dekan Fakultas Kedokteran Prof dr Ali Ghufron Mukti MSc PhD sebelum diserahkan kepada Riana Helmi.

Menurut Wida, sebelum tercatat menjadi dokter termuda, Riana Helmi pernah mendapatkan piagam penghargaan sebagai Sarjana Kedokteran termuda di usia  17 tahun 9 bulan. “Jadi pada kesempatan ini Riana Helmi setelah menjadi sarjana kedokteran termuda akhirnya terpilih kembali menjadi dokter termuda sehingga mendapatkan piagam penghargaan dari Muri,” kata Wida.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran UGM Prof dr Ali Ghufron Mukti MSc PhD mengatakan meskipun terpilih sebagai dokter termuda, Riana Helmi tetap diyakini mampu dan telah matang baik secara psikologis maupun sosialnya.

“Meskipun pernah sebagai sarjana kedokteran termuda hingga dokter termuda kami yakin Riana tetap sudah matang baik sosial dan psikologis sehingga tidak ada kesulitan ketika terjun di lapangan,” kata Ghufron.

Ali Ghufron dalam kesempatan itu juga berharap agar para dokter yang dilantik ketika praktik dan terjun di masyarakat bisa bekerja dengan mengutamakan prinsip keselamatan dan efisiensi. Diakui Ghufron, selama ini dalam praktik dunia kedokteran masih banyak ditemui kasus medical error yang merugikan masyarakat maupun mencoreng citra dokter.

“Dengan masih banyak kasus medical error ini, maka diharapkan dokter baru bisa bekerja dengan tetap tidak meninggalkan prinsip keselamatan dan efisiensi,” ujarnya.

Di hadapan dokter baru, ia juga berharap agar mereka bisa secara serius melaksanakan program Internsip. Internsip adalah proses pemagangan selama 1 tahun di puskesmas maupun rumah sakit tipe C dan D yang bertujuan untuk menyelaraskan antara hasil pendidikan dan praktik di lapangan.

Di tempat yang sama Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) DIY Dr Bambang Suryono Suwondo, SpAn KIC KNA dalam sambutannya berharap agar para dokter baru nantinya juga bisa mengembangkan terapi herbal sebagaimana telah diatur dalam Permenkes 1109/2007. “Herbal dapat saja mendampingi farmaka atau mengganti farmaka yang selama ini ada sepanjang sudah ada bukti kemanfaatannya atau khasiatnya melalui uji klinik,” katanya.

Dalam sebuah wawancara dengan sebuah Tabloid Ibukota, Riana mengaku bahwa dia memang termasuk mahasiswa angkatan dia yang lulus pertama kali dari FK UGM. Namun sesungguhnya dia menempuh kuliah di FK dalam waktu normal. Yang membuat dia menjadi dokter di usia 19 tahun, karena dia masuk sekolah sudah sejak berumur 4 tahun.

”Saya masuk SD umur 4 tahun. Waktu itu memang memungkinkan. Bahkan saya waktu itu minta sekolah sampai nangis-nangis. Nah ketika SMP dan SMA saya masuk program akselerasi. Sehingga di sekolah lanjutan itu hanya saya tempuh dalam waktu empat tahun,” cerita Riana seperti dikutip dari Tabloid Nova. Metrotv.com/dari berbagai sumber/mul

lowongan pekerjaan
Harian Umum SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…