Kamis, 30 Desember 2010 23:46 WIB Boyolali Share :

Petani sayuran di lereng Merapi resah harga bibit melonjak

Boyolali (Espos)--Sejumlah petani sayuran di lereng Merapi meresahkan melonjaknya harga bibit sayuran yang siap tanam. Selain itu, ketersediaan bibit juga sulit diperoleh di pasaran.

Salah seorang petani di Desa Jrakah, Selo, Wiyono menuturkan harga bibit sayuran mulai langka pascabencana Merapi. Hal itu diduga terjadi karena seluruh tanaman sayuran rusak terkena abu Merapi. Akibatnya banyak petani yang tidak sempat menyisihkan tanaman khusus untuk pembenihan. “Di beberapa daerah untuk memperoleh bibit sayuran sudah sangat sulit,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (30/12).

Sedang, Sunoto mengaku bibit yang dijual di pasaran biasanya dengan system bedengan. Dirinya mencontohkan untuk satu bedengan bibit capai siap tanam yang berisi 150 batang seharga kurang dari Rp 10.000. Tetapi kini pembelian harus per batang dengan harga Rp 150/batang. Demikian juga bibit kol, Sunoto mengaku saat ini mencapai Rp 150/batang dari harga sebelumnya sekitar Rp 75/batang.

Mengenai adanya bantuan bibit sayuran dari pemerintah, dirinya mengaku belum menerima. Dirinya hanya mendengar ada informasi pemberian bantuan bibit sayuran dari pemerintah. Namun, dirinya tidak tahu realisasi bantuan. “Selama ini petani mengandalkan persediaan bibit yang ada atau masih tersimpan sebelum erupsi Merapi lalu,” tandas dia.

Terpisah, Kades Jrakah Tumar mengaku pihaknya sudah mengimbau warganya untuk segera menanam sayuran. Pasalnya, tanaman sayuran bisa cepat panen, sehingga bisa memberikan penghasilan bagi masyarakat korban Merapi.
“Namun saat ini bibit tanaman saja sudah mahal, sehingga menyulitkan petani itu sendiri,” jelas dia.

Sementara, Bupati Boyolali Seno Samodro mengatakan pihaknya akan secepatnya menyerahkan bantuan bibit sayuran dan pupuk kepada para petani korban Merapi. “Kami akan upayakan secepatnya untuk pemulihan perekonomian warga,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (30/12).

Bupati menambahkan selain bantuan bibit, pihaknya juga akan mengupayakan untuk pemberian permodalan, karena diakuinya, saat ini masyarakat lereng Merapi membutuhkan modal untuk bangkit dari keterpurukan.

fid

lowongan peekrjaan
PT. Integra Karya Sentosa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…